Monday, 21 October 2019

Pengusutan Korupsi PNPM Rp10 Miliar Dipertajam

Kamis, 21 Juni 2012 — 18:07 WIB
uang banyak

SUKABUMI (Pos Kota) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terus mempertajam pengusutan kasus dugaan penyelewengan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Kecamatan Caringin sekitar Rp10 miliar lebih.

Jumlah total dana tersebut merupakan kalkulasi program PNPM sejak 2007 hingga 2011.

“Kasus ini masih terus berjalan dan masih dalam tahap penyelidikan dengan memanggil sejumlah saksi,” kata Kepala Kejari Cibadak, Narendra Jatna melalui Kasi Intelejen Kejaksaan Negeri, Haerudin kepada Pos Kota, Kamis (21/6).

Dalam kasus tersebut, kata Haerudin, tim penyidik sudah menghitung kerugian negara kurang lebih Rp 2,4 miliar. Namun hasil tersebut masih bersifat sementara. Kini, pengusutan lebih diperioritaskan kepada beberapa item program.

“Termasuk dalam penetapan tersangka belum ada. Kita masih memintai keterangan saksi untuk lebih mempertajam,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Jaringan Masyarakat Bersatu (Jambe) Bambang Rudiyanto menilai pengusutan kasus PNPM tersebut terkesan lamban. Sepengetahuannya, proses penyelidikan kasus tersebut sudah dimulai sejak akhir tahun lalu. Sayangnya, hingga kini pengusutannya belum ada progres yang signifikan.

“Penyidik harus menentukan item program yang akan diusut lebih didasari besaran dana yang disalahgunakan. Jangan sampai penanganan kasus ini menjadi terkesan lamban. Bahkan tersangkanya pun belum ada. Padahal nilai kerugian sudah muncul,” tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Badan Koordinasi Antar Desa (BKAD) Kecamatan Caringin,  Epi Gunawan mengungkapkan warga mendesak agar pengusutan kasus PNPM di wilayahnya dipercepat.  Menurut Epi, lambannya pengusutan kasus PNPM akan berimbas atau bahkan menghanguskan PNPM tahun 2012.

“Itu bakal terjadi apabila sampai batas waktu belum ada kejelasan tersangkanya. Kalau masih belum ada kejelasan tersangka akan berimbas kepada program PNPM selanjutnya ke wilayah kami,” paparnya. (sule/dms)