Wednesday, 23 October 2019

Akibat Perbaikan Jalan

Indramayu-Pekalongan Ditempuh 8 Jam

Kamis, 19 Juli 2012 — 0:14 WIB
ilusindramayu

PENGGUNA JALAN berharap kontraktor yang dipercaya menangani perbaikan jalan dan jembatan di Jalur Pantura memperhatikan kualitas hasil pekerjaan dan penggunaan material.

Pasalnya, hampir setiap tahun pengguna jalan kerapkali melihat adanya titik-titik kerusakan jalan dan jembatan. Sehingga aktifitas perbaikan jalan dan jembatan di Jalur Pantura itu terlihat rutin saban tahun. Sebuah pemborosan uang rakyat.

“Bosan melihat kerusakan di Jalur Pantura. Usia jalan belum lama, namun kondisi jalan yang baru saja diperbaiki sudah rusak lagi. Ibarat kata di sini baru selesai diperbaiki, disana rusak lagi, demikian seterusnya,” kata Deni Darmanto, 39 salah seorang pengendara.

Menurut Deni Darmanto, kerusakan jalan dan jembatan di Jalur Pantura itu tak hanya terjadi di Wilayah Indramayu. Namun juga terjadi di sejumlah titik di sejumlah kabupaten/kota yaitu mulai dari titik perbaikan di Jalur Pantura Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang hingga Pekalongan.

Dari sekian banyak titik perbaikan jalan dan jembatan itu, dampak yang dirasakan oleh pengguna jalan itu sama saja, alias sami mawon. Yaitu; menimbulkan kemacetan lalu-lintas hingga ketidaknyamanan bahkan mengancam keselamatan pengendara. Kemacetan lalu-lintas misalnya umumnya semakin diperparah oleh meningkatnya jumlah volume kendaraan serta tak disiplinnya para pengguna jalan.

Deni, mengemukakan, rute perjalanan dari Pekalongan ke Indramayu yang jaraknya sekitar 180 Km dalam kondisi normal dapat ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. “Sekarang setelah ada perbaikan Jalur Pantura di sejumlah titik seperti di Kabupaten Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang dan Pekalongan membuat waktu tempuh kendaraan menjadi semakin molor menjadi 8 – 10 jam karena macet,” katanya.

Macet merugikan pengguna jalan. Macet tak hanya membuat anggaran pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) makin membengkak, namun juga memboroskan waktu dan tenaga yang terbuang percuma.

Ramadi, 48 salah seorang pengemudi angkutan penumpang umum yang dijumpai Pos Kota, Rabu (18/7) mengemukakan, macet paling parah terjadi di Pekalongan tepatnya di Desa Wiradesa. Di sana katanya terdapat aktifitas perbaikan jembatan. Berbagai jenis kendaraan khususnya dari arah Pekalongan menuju Jakarta terpaksa harus antri.

Pergerakan kendaraan tersendat hanya bisa melaju antara 1 hingga 3 meter. Ruas jalan yang biasanya hanya cukup untuk 2 lajur kendaraan yang saling beriring-iringan terpaksa menjadi 4 lajur. Jalan penuh sesak oleh kendaraan. Tak ada ruang yang terisa sekalipun untuk pedagang asongan yang biasa menjajakan makanan.(taryani).

  • http://www.facebook.com/people/Utomo-Prawiro/100000331352018 Utomo Prawiro

    Harusnya perbaikan jalan harus ada garansinya. kalau sebelum 3 tahun maka perbaikan harus gratis. dan masa garansi juga bertambah (terutama kalau rusak dibawah 1 tahun, maka garansi kembali ke 3 tahun dari waktu perbaikan) dengan begitu pemborong akan bekerja lebih baik. dan juga pengawas harus di cek kerjanya. jangan sampai ada permainan antara pemborong dan pengawas