Thursday, 14 November 2019

Porter di Tanah Abang Meraup Rejeki Lebaran

Senin, 30 Juli 2012 — 22:27 WIB
ilusporter

PADATNYA warga yang berbelanja baju muslim di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat menjadi berkah tersendiri bagi porter alias kuli angkut barang. Setidaknya mereka bisa memperoleh penghasilan lebih sebagai persiapan Idul fitri.

Itu juga yang dirasakan Heri, 35, salah seorang porter di pasar baju muslim Thamrin City, kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang. Pria bertubuh kurus tersebut boleh dikata ikut ‘panen’ saat-saat banyak warga berbelanja baju muslim dalam skala besar (grosir).

Untuk mengais rejeki tersebut, Heri harus rela bangun pukul 00.00 tengah malam dan memulai aktivitasnya sebagai porter pukul 03:00 dinihari.

“Saya naik kereta dari Rangkasbitung jam 12 malam, sampai Tanah Abang jam 3 pagi, ngopi sebentar sambil sahur, baru kerja,” ujarnya.

Heri yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani, memang hanya dua kali memiliki jadwal ‘kerja’ di Tanah Abang yakni Senin dan Kamis. Dua hari pasaran tersebut tergolong padat pengunjung.

“Hari lainnya saya di kampung, kerja serabutan, apa saja. Kadang disawah,” lanjut bapak 3 anak tersebut.

Menjadi porter di kawasan belanja Tanah Abang diakui memang cukup menggiurkan untuk orang seperti dia. Bayangkan saja, sehari ia bisa mengantongi uang antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Terlebih menjelang Lebaran, dimana kawasan Tanah Abang diserbu pembeli dari berbagai daerah.

Meski cukup menggiurkan, Heri tidak lantas larut dalam rutinitasnya sebagai porter. Ia hanya memilih dua hari saja dalam sepekan.
Sisanya, ia memilih bekerja di kampungnya agar bisa dekat dengan anak-anaknya.

Untuk kerjanya sebagai porter, Heri mengaku tidak mematok tarif yang tinggi. Sekali angkut untuk karung berukuran besar dari kawasan pertokoan ke lobi atau ke parkir cukup Rp 20 ribu. Sedang jika konsumen menginginkan angkut sampai perusahaan ekspedisi yang ada disekitar Tanah Abang, ongkosnya dua kali lipatnya.

Selain mengandalkan konsumen, Heri juga mempunyai toko langganan yang setiap hari menggunakan jasanya baik untuk mengangkut barang dagangan, merapihkan toko maupun menutup toko. Untuk yang model langganan seperti ini, ongkosnya jelas berbeda.

Heri bersyukur, meski sebagai buruh tani tidak bisa berharap dapat THR, namun padatnya orang berbelanja kebutuhan Lebaran, merupakan berkah baginya. “Setidaknya baju lebaran buat anak bisa terbeli,” pungkasnya. (Inung)

Teks : Heri, porter di kawasan Tanah Abang. (inung)