Monday, 14 October 2019

Osteoporosis Jadi Pembunuh Diam-Diam

Rabu, 3 Oktober 2012 — 23:07 WIB
Osteoporosis

KONSUMSI susu masyarakat Indonesia  masih sangat rendah. Rata-rata cuma 11 sampai 19 liter per tahun. Itu artinya, penduduk Indonesia meminum segelas susu tiap sembilan hari sekali. Tak heran, angka penderita osteoporosis pun  cukup tinggi.

“Minimnya konsumsi susu di sini membuat dua dari lima orang Indonesia berisiko tinggi terkena osteoporosis, baik pada perempuan pra atau pasca-menapause,” ungkap Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, spesialis gizi klinik FKUI dalam media workshop bertitel ‘Susu Berkalsium Tinggi Terbukti Secara Klinis Menurunkan Pelepasan Tulang dalam 2 Minggu’ yang digelar Anlene di Jakarta, Rabu (10/3).

Karenanya, harus dicegah sejak dini agar kelak di usia senja tulang-tulang tetap kuat. Melalui pola makan sehat, dengan memperhatikan komposisi protein, kalsium, dan vitamin D.

“Jangan lupa untuk melakukan aktifitas sehat, dan terkena paparan sinar matahari. Tidak lupa pula minum susu berkalsium tinggi, karena dapat membantu mengurangi proses pelepasan kalsium tulang oleh asteoklas, yang menyebabkan osteoporosis,” tandas Fiastutgi.

Ahli gizi klinik dari FKUI, Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, (paling kanan) mendampingi pembicara dr. Muliaman Mansyur, Medical Marketing Manager PT Fontera Brands (kedua dari kiri) dan presenter Novita Angie (kedua dari kanan) saat tampil  dalam workshop di Jakarta, kemarin. (aby)

Ini sejalan dengan hasil riset yang dilakukan Departemen Gizi FKUI dan Fonterra Brands Indonesia. Riset untuk mengetahui manfaat susu kalsium tinggi pada pria dan wanita ini menyasar kelompok usia 35-45 tahun, dan kelompok usia 46-55 tahun.

“Hasilnya, konsumsi tinggi kalsium dan vitamin D selama 2 minggu, secara signifikan dapat mengurangi kerusakan tulang,” ungkap dr. Muliaman Mansyur, Medical Marketing Manager PT Fontera Brands Indonesia.

PEMBUNUH DIAM-DIAM

Osteoporosis atau penyakit keropos tulang yang tidak disertai gejala awal. Itu sebabnya, sering disebut silent deases (pembunuh diam-diam). Kebanyakan orang tidak tahu sampai penyakit tersebut berkembang. Osteoporosis bisa tidak terdeteksi selama bertahun-tahun sehingga mereka mengalami tanda awalnya yaitu patah tulang.

Kekurangan kalsium menjadi salah satu penyebabnya. Kalsium yang dibutuhkan tubuh adalah 100mg untuk usia 19-50 tahun, dan 1200 mg untuk usia di atas 50 tahun.

“Patah tulang pada osteoporosis dapat dicegah, salah satunya melalui pemenuhan asupan kalsium. Susu salah satu sumber asupan kalsium yang dianjurkan,” tambah Fiastuti.

Dr  Fiastuti menjelaskan, saat muda, pembentukan sel tulang baru lebih cepat daripada penghancuran tulang tua sehingga kepadatan tulang masih terjaga. Setelah usia 30 tahun, proses penghancuran sel tulang tua lebih cepat daripada pembentukan sel tulang baru dan akan mengurangi kepadatan tulang dengan cepat.

Semakin kecil kepadatan tulang, semakin besar pula kemungkinan mengalami osteoporosis atau pengeroposan tulang.

NABUNG KALSIUM

“Sebelum mencapai usia 30 tahun, tubuh menabung kalsium untuk memperkuat tulang. Jika setelah berusia 30 tahun jumlah kalsium yang ditabung tidak cukup, maka tulang akan rapuh setelah usia 30 tahun ke atas,” katanya.

Menurut dr Fiastuti, kebutuhan kalsium tertinggi ada pada usia remaja, yaitu sebanyak sekitar 1300 mg perhari. Asupan kalsium dapat diperoleh dari makanan sehari-hari. Bahan makanan yang banyak mengandung kalsium adalah susu. Sebanyak 600 mg kebutuhan kalsium diperolah dengan meminum 2 gelas susu setiap hari.

Yang mengkhawatirkan, osteoporosis atau pengeroposan tulang ini tidak bisa diprediksi dan baru diketahui setelah kerusakan yang terjadi sudah parah. Penyakit osteoporosis menyerang 20-25 persen  wanita Indonesia di usia lanjut. Agar terhindar dari penyakit ini, pencegahan harus dilakukan sejak dini. (aby/dms)