Sunday, 15 December 2019

Meningkat, Kasus Patah Tulang akibat Osteoporosis

Jumat, 12 Oktober 2012 — 18:20 WIB
Osteoporosis

JAKARTA (Pos Kota) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan insidens kasus patah tulang paha atas akibat osteoporosis (keropos tulang)  di Indonesia mengalami tren kenaikan.

Mengambil data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2010,  kasus patah tulang meningkat setiap tahun sejak 2007. Pada 2007 tercatat ada 22.815 insidensi patah tulang, pada 2008 menjadi 36.947, 2009 jadi 42.280 dan pada 2010 ada 43.003.

“Kenaikan kasus patah tulang akibat osteoporosis meningkat karena faktor resiko osteoporis juga meningkat,” ujar Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Jumat.

Faktor resiko yang dimaksud adalah, aktifitas fisik warga yang semakin menurun, kebiasan merokok, kurangnya paparan sinar matahari, kurangnya asupan nutrisi kalsium dan vitamin D.

Jika dirata-rata, lanjut Tjandra, SIRS menyimpulkan angka insiden patah tulang paha atas tercatat sekitar 200/100 ribu pada wanita dan pria di atas usia 40 tahun.

Tidak hanya kasus patah tulang, rata-rata kasus per 100 ribu (prevalensi) penyakit keropos tulang, menurut Tjandra juga mengalami peningkatan dari 23 persen pada usia 50 hingga 80 tahun menjadi 53 persen pada usia 70 hingga 80 tahun.

Tjandra mengatakan, insiden patah tulang ini perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya Badan Kesehatan Dunia, WHO menyatakan 50 persen patah tulang paha atas akan menimbulkan kecacatan seumur hidup dan 30 persennya menyebabkan kematian.

Berkaca dari hal itu, maka kasus osteoporis harus dapat ditekan. “Kesadaran masyarakat untuk mencegah osteoporosis sejak dini harus ditingkatkan,” cetusnya.

Wakil Ketua Perosi Siti Annisa Nuhonni menambahkan, sosialisasi pola makan sehat dengan menjaga komposisi protein, kalsium dan vitamin D.

Siti mengatakan, minimal kalsium yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 1000 mg untuk usia 19-15 tahun dan 1.200 mg untuk usia di atas 50 tahun.

Terkait patah tulang, Perosi bekerjasama dengan WHO telah berhasil membuat Fracture Risk Asessment Tool (FRAX) untuk Indonesia yang telah resmi beroperasi pada 27 April 2012 kemarin.

Dengan adanya FRAX Indonesia, setiap dokter akan dapat memprediksi kejadian patah tulang pada penderita penyakit keropos tulang pada 10 tahun ke depan.

Metode FRAX ini, lanjut Siti, hendaknya diajarkan ke setiap dokter di negara kita. Dengan demikian prediksi patah tulang pada orang Indonesia usia di atas 40 tahun bisa diketahui sejak dini. (aby/dms)

Terbaru

Anggota Komisi I  DPR RI, Sukamta. (rizal)
Minggu, 15/12/2019 — 19:17 WIB
UU Kewarganegaraan Ancam Imigram Muslim
PKS Desak Pemerintah Panggil Kedubes India
CEO Sahara Farah menerima piagam penghargaan dari Muri atas pemecahan rekor Gebyar 10.000 Warung. (ist)
Minggu, 15/12/2019 — 18:55 WIB
Gelar GEBYAR 10.000 WARUNG, SAHARA Ukir Rekor MURI