Wednesday, 13 November 2019

Keuangan Syariah Dongkrak Penjualan Motor

Senin, 5 November 2012 — 11:52 WIB
motor

PENJUALAN sepeda motor nasional turun dari target 8,3 juta menjadi 7,1 unit pada tahun ini. Penurunan tersebut merupakan dampak kebijakan pemerintah yang menaikkan uang muka (down payment/DP) sebesar 25 persen yang sudah berlaku sejak Juni lalu.

Para pelaku industri otomotif, khususnya sepeda motor, berupaya  mensiasati mandeknya permintaan pasar agar target  penjualan tetap mencapai angka psikologis. Misalnya dengan menghadirkan varian yang paling banyak digemari konsumen saat ini, atau  menggenjot penjualan melalui lembaga keuangan syariah.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Gunadi Sindhuwinata, dalam sambutannya pada  pembukaan Jakarta Motor-Cycle Show (JMCS) 2012 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Rabu (31/10) lalu, mengungkapkan, penurunan penjualan sepeda motor tahun ini benar-benar terjadi. Melihat angka tahun lalu, sejatinya penjualan bisa naik  sekitar 10 persen.

Catatan AISI, total penjualan sepeda motor  tahun lalu  mencapai 8,01 juta unit, sedangkan penjualan sepanjang Januari hingga September 2012 baru  mencapai 5,33 juta unit. Untuk itu, AISI harus realistis dalam mematok  target pertumbuhan 10 persen menjadi 10 juta unit pada tahun ini, mundur hingga 2016 nanti.

Fakta penurunan angka penjualan sepeda motor  pada tahun ini, membuat pelaku pasar mengubah target penjualan mereka. PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) melalui Direktur Marketing, Sutarya, mengungkapkan, semula pihaknya menargetkan menjual 3 juta unit motor  tahun ini, lalu mengubahnya menjadi 2,5 juta unit karena imbas kebijakan DP 25 persen tersebut.

PT YIMM pun mencoba berkreasi dengan bekerja sama dengan lembaga keuangan syariah agar bisa mengatasi masalah DP yang dianggap konsumen terlalu tinggi. “Orang sudah tahu cara kerja syariah, kami akan bekerjasama dengan lembaga keuangan syariah agar masalah DP bisa teratasi,” kata dia.

Hal yang sama juga dilakukan PT Federal International Finance (FIF). Mereka  menggenjot pembiayaan pembelian sepeda motor Honda secara kredit melalui program keuangan syariah terkait kebijakan  pemerintah soal DP.

Suzuki Indonesia mengambil strategi lain untuk tetap menjaga target pasarnya mencapai angka yang telah di patok, yakni 500 ribu unit pada 2012. Sebelumnya, Suzuki mematok penjualan  600 ribu unit, namun diubah karena kebijakan DP yang sebelumnya hanya sekitar 18 persen.

Startegi  Suzuki untuk mendongkrak penjualan adalah  memperbanyak varian baru, khususnya motor sport. GM Manager Suzuki Indonesia, Yohan Yahya, kemarin, mengungkapkan, penurunan penjualan tak hanya terjadi di Suzuki, tetapi juga terjadi di semua Agen Pemegang Merek (APM). Namun, Suzuki tak khawatir hal itu karena masalah DP mereka anggap sebagai turbulens yang akan segera berlalu.

“Biasa masyarakat kita memang seperti itu, kalau ada kebijakan baru yang tidak populer, permintaan pasar menjadi terganggu. Tapi percayalah, nanti pada 2013 pasar motor akan pulih lagi. Kami optimis itu,” kata Yohan Yahya.

Namun, sebelum turbulens terkendali, Suzuki Indonesia memperbayak varian produksinya, khususnya sepeda motor jenis sport, seperti Motor Sport Suzuki GW 250 atau Suzuki Hayabusa yang dibanderol Rp350 juta. “Permintaan pasar akan motor sport terus meningkat, dan Suzuki menjawabnya dengan menghadirkan motor-motor sport,” kata Yohan Yahya.(Ballian R. Siregar)