Wednesday, 13 November 2019

Temu Sastra Indonesia 2012 di Kantor Kemendikbud

Senin, 19 November 2012 — 22:07 WIB
Radhar Panca Dahana-n

JAKARTA  (Pos Kota) –  Dunia  sastra Indonesia telah lama tenggelam. Agar dunia satra indonesia bangkit kembali maka  sastra Indonesia harus  biasa dan mampu menembus pasar dunia.

Untuk itu, diperlukan   perlu diadakan semacam penguatan bersama dengan sastrawan.  Demikian dikatakan Wakil Menteri Pendidikan bidang Kebudayan Wiendu Nurhayati saat meluncurkan program “Temu Sastra Indonesia 2012” di kantor  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta,  Senin (19/11) petang.

“Sekarang bagaimana mencari strateg. Karena kita pandang olah sastra  kita perlu terus dibenahi. Pada masa Ki Hajar Dewantoro olah rasa dan cipta. Rasa ekspresi sastra sehingga akan mewarnai,” kata Wiendu.

Meski begitu, Wiendu mengatakan, bahwa pihaknya masih mencari bentuk untuk meningkatkan kesusataraan.  “Kita masih mencari bentuk untuk meningkatkan akselerasi karya sastra karena rentetan dengan ini ada festival membaca puisi dan masuk ke sekolah,” paparnya.

Untuk itu  lanjut Wiendu, diperlukan adanya kurikulum bahasa, tidak hanya tata bahasa saja, tetapi juga  ekspresi sastra. “Kita butuhkan itu untuk apresiasi sastra pada pelajar,” katanya.

Budayawan Radhar Panca Dahana mengatakan,  diperlukan pengkuatan tentang kebudayaan. Salah satunya adalah sastra. Sebab katanya, punya kebudayaan itu adalah simbol dan tata bahasa.

“Kita lakukan temu sastra Indonesia untuk gerakkan orang-orang diskursus kesusatraan yang cakap. Sebab,  dalam  dekade terakhir tidak ada kursus kesusastraan. Juga tidak ada  debat kritik  dalam  30 tahun terakhir ini,” kata Radar yang menjadi salah satu pembicara dalam Temu Sastra Indonesia 2012.

Menurut Radhar, forum  kebudaya tersebut telah direbut oleh sosial media. Yakni yang ringan dan cair. “Ya, media hanya mengungkap berita-berita cair, seperti  kriminal, ekonomi dan lain-lain,” katanya.

Temu Sastra  Indonesia 2012 telah dimulai sejak 13  Okotber lalu di 7 kota.  Diantaranya, Lebak  (Banten),  Malang (Jawa Timur),  Padang (Sumbar), Banjarmasin (Kalsel), Palu ( Sulteng),  Kupang (NTT) dan ditutup di Jakarta yang akan digelar di Galeri Nasional Indonesia, Rabu (21/11). (rizal/dms)