Friday, 13 December 2019

`Oleh-Oleh` Seorang Suami

Kamis, 29 November 2012 — 12:52 WIB
DIA

PULANG bepergian itu mustinya suami bawa oleh-oleh martabak telor atau apa. Eh Tarbani, 40, dari Sumenep (Madura) ini justru lain. Bukannya martabak yang dibawa, tapi malah Martini, 28, sebagai WIL-nya. Tentu saja sang istri jadi mencak-mencak, sehingga mengerahkan warga untuk menggerebeknya.

Oleh-oleh yang namanya WIL (Wanita Idaman Lain), agaknya menjadi kegemaran banyak kaum lelaki. Jika BPS (Badan Pusat Statistik) mencatatnya, mungkin dari 100 penduduk, ada satu dua pria yang punya. Lha kalau seluruh Indonesia, menjadi berapa tuh? Kenapa sih banyak kaum lelaki penggemar WIL? Mungkin karena kepraktisan saja, sebab yang namanya WIL itu memang bisa dijowal jawil (dicolek) dan siap diiwil-iwil (baca: diraba-raba).

Tarbani, anggota polisi yang terpaksa disebut oknum, rupanya juga termasuk lelaki penyuka WIL. Padahal di rumahnya Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, dia sudah memiliki istri yang siap dijowal jawil dan diiwil-iwil sebagaimana layaknya. Tapi tahulah sifat dasar setiap kaum Adam, dia sangat pembosan dan tidak puas dilayani haya oleh satu wanita. Jika memungkinkan, dua, tiga dan empat juga nggak apa-apa karena agama juga mengizinkannya.

Tapi untuk poligami resmi, tak semua lelaki berani termasuk Tarbani. Di samping melanggar sumpah PNS, juga punya bini lebih dari satu berpotensi high cost (tinggi anggaran). Akibatnya, oknum polisi yang sekedar memburu enak emoh onak dan anak, memilih memelihara WIL saja. Disamping tak kena resiko mengeluarkan anggaran multi years, kapan sudah bosan bisa dicampakkan begitu saja, untuk kemudian berburu WIL yang lain lagi.

Namun agaknya praktisi selingkuh berdarah dingin hanyalah Tarbani ini. Bila orang lain takkan berani membawa WIL ke rumah, justru oknum polisi ini merupakan hal biasa. Tentu saja ini dilakukan di kala istri pergi, apa lagi sampai menginap segala. Di situlah saatnya Tarbani membawa WIL-nya yang bernama Martini ke dalam rumah dan kamar pribadinya. Di sini wanita sekel nan cemekel itu diperlakukan macam kue serabi di bulan Ruwah, diwolak-walik sesuka hati.

Warga tetangga Tarbani lama-lama curiga. Mana kala istrinya tak ada, kenapa oknum polisi itu membawa seorang wanita yang itu-itu juga. Takut terjadi hil-hil yang mustahal, beberapa hari lalu warga memberanikan diri telepon Bu Tarbani, menanyakan siapa gerangan wanita itu. Ternyata ibu bayangkari tersebut malah terkaget-kaget. “Tunggu saya pulang, nanti kita gerebek bersama-sama….,” begitu perintah Ny. Tarbani.

Ini sungguh di luar perkiraan Tarbani. Di kala dia masih asyik masyuk bersama sang WIL, mendadak pintu diketok-ketok warga. Kontan pendulum miliknya jadi ngedrop, dari 240 volt ke 110 volt seperti listrik jaman Orde Lama. “Siapa itu?” tanya Tarbani dari dalam. Ternyata yang di luar malah makin garang. “Nggak usah tanya siapa, aku istrimu sendiri, Mas!” jawab wanita yang di luar yang ternyata memang istrinya. Kontan pendulum Tarabani makin ngedrop, tinggal satu strip ibaratnya tenaga baterai HP.

Dengan pucat pasi Tarbani harus menemui warga dan istrinya. Ternyata istri oknum polisi ini tak bisa diajak kompromi. Meski bakal mempengaruhi karier suami ke depan, tetap saja dilaporkan ke Mapolres Sumenep, dan diteruskan ke Provost.

Apes, dilaporkan ke Provos gara-gara ngempros. (BJ/Gunarso TS)

  • fian

    potong aja pistolnya, maksudnya burungnya, biar ga bisa manggung kemana-mana…