Friday, 18 October 2019

Kawin Kontrak Dijadikan Bisnis Dikelola Mafia

Selasa, 11 Desember 2012 — 9:18 WIB

SUKABUMI (Pos Kota) – Istilah kawin kontrak agaknya bukan sesuatu yang aneh di telinga masyarakat, terutama di Jawa Barat termasuk di Sukabumi. Masyarakat mengetahui arti kawin kontrak yakni perilaku penyelewengan pernikahan.

Tak seperti pernikahan umumnya, pasangan kawin kontrak terikat batas waktu tertentu. Fenomena ini tak lepas dari tangan mafia kawin kontrak yang berperan sebagai penghulu atau disebut amil, saksi dan wali bagi pengantin wanita sekaligus mas kawin atau mahar. Lalu bagaimana sepak terjang penghulu di Sukabumi?

Fenomena kawin kontrak di Sukabumi tak jauh beda dengan daerah lainnya seperti Bogor dan Cianjur. Di Sukabumi, kawin kontrak seperti bisnis prostitusi terselubung belaka. Soalnya, praktek kawin kontrak jelas-jelas menyalahi aturan yang telah digariskan oleh agama. Kendati demikian, tak sedikit orang banyak terjerumus dalam praktek haram ini.

“Biasanya kawin kontrak di Sukabumi antara wanita lokal sama orang Arab. Paling sebulan setelah itu pisah lagi,” aku Saep (nama samaran) salah seorang yang mengaku pernah menjadi penghulu kawin kontrak di kawasan Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi ini.

Parahnya lagi, Saep mengaku menjadi penghulu kawin bukanlah pekerjaan maupun keahliannya. Peran seperti ini, kata Saep, dilakukan juga orang lain. Ada yang berperan menjadi saksi, wali, bahkan orang tua calon mempelai wanita.

“Kalau uang yang saya dapat dari sekali menjadi penghulu beda-beda. Tergantung dari kesepakatan kawin kontrak itu sendiri. Saya tidak lebih dari lima kali menjadi penghulu rata-rata Rp500 ribu dan pernah satu juta rupiah,” tuturnya.

Bervareatifnya honor peran masing-masing, termasuk jadi penghulu biasanya tergantung dari kesepakatan harga kawin kontrak itu sendiri. Pasalnya, kawin kontrak ini tergantung kesepakatan kedua mempelai. Minimal harga kesepakatan Rp10 juta, bahkan bisa di atas Rp20 juta.
“Kalau menikahkan kita biasanya sewa lokasi. Bisa rumah penduduk, cottage atau vila yang disewakan. Ya paling dua tiga jam, setelah itu bubar. Dan biasanya paling laki-lakinya langsung bawa wanitanya untuk bermalam pengantin,” tutur pria berusia 47 tahun ini.

Menurut Saep, praktek kawin kontrak tak lepas dari calo atau agen yang berperan menjadi mak comblang. Bahkan, para calo tersebut mencari langsung ke pelosok-pelosok daerah di Sukabumi untuk dikawinkontrakan.
“Pembagiannya biasanya 70 sampai 80 persen untuk mempelai wanita, sisanya dibagi-bagikan untuk kita yang menjadi penghulu, saksi, dan wali. Kebanyakan wanita yang mau dikawin kontrak dari keluarga kurang mampu tapi mempunyai tubuh dan wajah yang lumayan cantik,” tuturnya.

Menjadi penghulu kawin kontrak, terang Saep, terkadang tak melihat latar belakang. Tukang ojek ataupun buruh pun bisa disulap jadi amil pernikahan kawin kontrak. “Sekarang masih terselubung dan diam-diam,” ujarnya. (sule)

  • Ading Bharata

    ….hebaaatt……ciamiiikk jawa barat….bagaimana tanggapanmu aher…????