Thursday, 05 December 2019

Merokok Juga KDRT

Kamis, 3 Januari 2013 — 11:52 WIB

MESKIPUN  beberapa Lembaga, termasuk Pemerintah mengembangkan pembatasan ruang bebas rokok, tetapi kampanye rokok dimana-mana. Menurut data jumlah produksi rokok semakin meningkat. Ada penelitian di China, bahwa jumlah perokok lebih banyak lagi di sana. Meskipun ada larangan merokok di sana.

Mengapa? Karena alasan beberapa anggota masyarakat di China, mereka menghadapi stress yang cukup berat. Bahkan menurut survey kalangan perokok adalah dari penduduk miskin yang berpendapatan sangat kecil. Dan pemerintah China telah mengendalikan hal itu melalui berbagai aturan dan himbauan.

Lain di Indonesia, merupakan surga untuk perokok dan pengusaha rokok. Pengusaha rokok meraup untung besar dari rokok, dan pemerintah juga untung besar dari cukai rokok. Baru-baru ini dalam rangka memperingati hari KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), Asosiasi Anti Rokok menyatakan agar pemerintah tegas terhadap dampak di bidang rokok. Bahkan mereka berkesimpulan bahwa merokok di rumah merupakan KDRT. Dijelaskan melalui beberapa televisi bahwa, ada sekeluarga mengidap penyakit paru-paru akut, bahkan ada yang meninggal karena asap rokok yang dinyalakan oleh suaminya. Meskipun nyonya atau istrinya tidak merokok, tetapi karena menjadi perokok pasif, dapat mengakibatkan berbagai penyakit.

Triliunan rupiah pemerintah memperoleh cukai rokok dari perusahaan-perusahaan rokok. Tetapi jika dibandingkan dengan korban rokok tidak seimbang. Lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Itu sebabnya Asosiasi Anti Rokok juga menyarankan agar pembatasan ruang bebas rokok terus dikembangkan. Pemerintah harus tegas terhadap dampak rokok. Para petani cengkeh dan tembakau juga melakukan demo agar regulasi mengenai rokok dikeluarkan melalui Undang-Undang. Karena mereka tetap hidup menderita ditengah majunya perusahaan-perusahaaan rokok.

Sementara itu yang perlu diwaspadai adalah perusahaan-perusahaan asing untuk membeli perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia. Dengan menggunakan cara Liberalisme dan Kapitalisme, pengusaha-pengusaha rokok tidak menghiraukan terhadap kesehatan anak-anak bangsa yang terkena dampaknya. Mereka hanya memikirkan keuntungan besar dengan mengacu kepada sistem “kebebasan untuk kebebasan”. Pengusaha-pengusaha asing yang lebih di untungkan.

Jumlah perokok di Indonesia makin bertambah, jika dilihat, yang memperoleh keuntungan adalah pengusaha-pengusaha asing itu. Menyedihkan, memprihatinkan, perusahaan-perusahaan itu tidak lagi mengindahkan akibat dari ulahnya itu. Contoh, perusahaan-perusahaan rokok telah menghalalkan segala cara, antara lain: Mengembangkan usaha rokok dari hulu hingga hilir. Kertas diolah mereka, tembakau dan cengkeh juga dikembangkan mereka. Tanpa memikirkan nasib petani kita, mereka membeli produk para petani dengan harga yang rendah. Apalagi dengan mesinisasi rokok, menyebabkan bangkrutnya para pengusaha rokok kecil dan rumahan.

Jeritan tentang dampak rokok disampaikan oleh Fraksi-Fraksi di DPR, berbagai Lembaga, Ormas dan lain-lain. Tetapi pemerintah seperti “tuli” dan tidak mau memikirkan. Karena untuk kepentingan anggaran dari cukai rokok. Sudah saatnya Lembaga DPR, Lembaga Eksekutif, dan Lembaga Yudikatif bicara menganai hal tersebut. Stop “pembunuhan” generasi bangsa oleh rokok.*