Wednesday, 23 October 2019

Nuryadi Membantah

Ketua DPRD Kota Bekasi Minta BK Teliti Dugaan Penipuan

Selasa, 19 Februari 2013 — 16:00 WIB
saban-sub

BEKASI (Pos Kota)- Ketua DPRD Kota Bekasi,  Andi Zubidi, meminta Badan Kehormatan (BK) DPRD untuk meneliti kasus dugaan penipuan yang dilakukan Nuryadi Darmawan, anggota DPRD Fraksi PDIP, terhadap seorang gadis asal Bandung.

“Masalah ini biar nanti Badan Kehormatan yang menangani dan setelah itu langkah apa yang ditempuh,” ujar Andi Zabidi,  saat dihubungi Pos Kota. Dia menyebutkan selama belum ada putusan yang tetap, pihaknya masih menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.

Sementara itu Zaiman Makmur Affan, Ketua Badan Kehormatan (BK) , mengatakan pihaknya akan koordinasi dengan pimpinan dewan, langkah apa yang ditempuh, “Yang pasti kami akan memanggil yang bersangkutan karena kita baru tahu sepihak soal laporan penipuan ini,” tandas Zaiman.

Langkah yang ditempuh setelah menerima penjelasan dari yang bersangkutan, kemudian cros chek dengan pelapor, baru dilaporkan, “Semua keterangan dari kedua pihak akan dilaporkan,” tandas Zaiman.

Nuryadi Darmawan, dilaporkan ke Mapolsek Bekasi Selatan, Senin, 18 Februari 2013. Nung, sapaan akrab Nuryadi Darmawan ini dituduh menipu Desta Pangesti, warga Desa Pakutandang, Ciparay,  Bandung. Nuryadi menjanjikan Desta menjadi  pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Pemerintah Kota Bekasi, asalkan bersedia membayar Rp75 juta.

“Nuryadi menipu keponakan saya untuk menjadi PNS,” ujar Riswan Purnama, paman korban saat dihubungi wartawan, sambil mengatakan uang diberikan ibunda Desta, Dedeh Hasanah, sebesar Rp 50 juta kepada Nuryadi. Pembayaran dilakukan di sebuah restoran di bilangan Kemang Pratama, Rawalumbu, “Transaksi disertai kuitansi bermaterai dari Nuryadi, tertanggal November 2009,” kata Riswan.

Nuryadi menyuruh Desta mengikuti tes masuk peserta PNS Pemerintah Kota Bekasi dengan cara umum. “Katanya hanya sebagai formalitas,” tutur Riswan menirukan ucapan Nuryadi, Namun di hari pengumuman, Desta tidak lulus tes.

Ketika keluarga Desta mempertanyakan hasil itu, Nuryadi berkilah. Ia bahkan meminta Dedeh kembali menyetor uang tunai sebesar Rp 25 juta. “Katanya untuk daftar ulang, dan proses masuk selanjutnya,” ujar Riswan.

Lagi-lagi keluarga Desta kecewa, karena hasilnya serupa dengan tes masuk pertama. Ketidakpastian itu berlangsung hingga akhir 2011. Merasa geram, keluarga Desta mendesak Nuryadi segera mengembalikan uang pelicin. “Tapi tiba-tiba anggota dewan itu tidak ada kabar, seperti melarikan diri,” kata dia.

Keluarga Desta baru dapat bertemu Nuryadi pada Januari 2012. Di situ, Nuryadi sepakat untuk mengganti uang dengan sistem menyicil. Sebagai awalan, ia menyetor uang muka sebesar Rp 5 juta. Kemudian, 1 Februari 2012, kedua belah pihak membuat surat kesepakatan pengembalian uang, terhitung sejak Januari 2012.

Tapi, setelah kesepakatan itu, Nuryadi kembali tidak ada kabar. Keluarga Desta akhirnya menyerahkan persoalan ini ke kepolisian dengan barang bukti surat pernyataan dan dua lembar kuitansi bermaterai.

Sedangkan Nuryadi, membantah kalau dirinya menipu, “Ini masalah utang piutang antara Dedeh dengan adik saya,” kata Nung yang juga Ketua KNPI Kota Bekasi, sambil mengatakan dia tidak kenal pelapor dan dirinya siap diperiksa polisi, “Kita lihat siapa yang benar,” tandasnya.

(saban/sir)

Foto-Nuryadi, membantah tuduhan.