Friday, 15 November 2019

Asap Hutan dan Asap Rokok

Senin, 1 Juli 2013 — 10:34 WIB

GARA-GARA polusi asap, rumahtangga kita bisa uring-uringan. Demikian juga bila suatu negara mendapat kiriman asap, baik diminta atau tidak diminta, pasti kesal. Tidak berlebihan bila Presiden SBY belum lama ini menyampaikan permintaan maafnya pada pemerintah dan rakyat Singapura dan Malaysia.

Pengamat bertanya, “Kalau kita meminta maaf, berarti kita salah. Tentu berimplikasi pada pemberian ganti rugi. Mungkinkah??? Uang dari mana??” Padahal dari musibah kebakaran hutan di wilayah Riau itu, yang paling dirugikan adalah Indonesia. Tentu dengan semangat ASEAN, langkah menuntut ganti rugi sangat tidak patut pada negara yang tengah dilanda musibah.

Dari dalam negeri, muncul kecaman. Kenapa kepada pihak luar negeri kita meminta maaf, tapi pada rakyat yang jauh lebih menderita akibat musibah pembakaran hutan itu, tidak ada kata maaf. Jangankan Presiden, wong Gubernur, Bupati bahkan Walikota yang wilayahnya terbakar juga tidak ada kata maaf kepada warganya. yang ada cuma imbauan, pakailah masker, nyalakan lampu kendaraan di jalanan. Rakyat yang menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) akibat menghirup asap tersebut, kalau berobat pun harus bayar ke rumah sakit.

Jadi, saatnya pemerintah menghukum berat pelaku pembakaran, khususnya yang berkaitan dengan perluasan lahan sawit. Di sana banyak investor asing. Pemerintah jangan segan atau takut untuk menindak tegas mereka, sebab investasi mereka tak seberapa dibanding polusi dan kerusakan yang ditimbulkan.

Sangat disayangkan, dari musibah asap yang selalu terjadi tiap tahun ini, sejauh ini belum ada kerjasama antara Indonesia – Singapura dan Malaysia guna mengatasi terjadinya kebakaran hutan. Karena asapnya bisa terbang lintas negara.

Di pemerintah, harus ada koordinasi yang padu antar instansi seperti Menlu, Menhut, Mentan dan lembaga terkait, dan pemerintah daerah. Pemerintah provinsi dalam pemberian perizinan pengelolaan hutan masih banyak kelemahan dalam pengawasannya. Karena masih belum padu, tak heran bila komentar mereka saat menghadapi musibah tahunan asap kebakaran hutan, bunyinya ngak-ngik-ngok, sehingga Presiden SBY harus menegornya.

Namun di balik musibah asap ini, masih ada lagi yang jauh lebih berbahaya. Asap ini datangnya tidak tiap tahun, tapi tiap detik, menit, jam bahkan tiap saat. Itulah ASAP ROKOK.
Asap kebakaran hutan, dampak kerugiannya lebih banyak ke hal material. Kalaupun ada korban jiwa, mungkin jumlahnya relatif sedikit. Tengok pada korban asap rokok. Si perokok, digergoti berbagai penyakit yang berkepanjangan yang berakhir pada kematian. Bahkan menurun pada janin bayinya.

Bukan itu saja, sebab mereka yang tidak merokok pun terimbas oleh beterbangannya asap rokok di sekeliling kita. Kalangan dokter menyebutkan, dampak negatif perokok pasif (mereka yang tidak merokok), lebih berat dibanding si perokok.
Balita yang digendong orangtuanya atau kerabatnya maupun Iingkungannya yang perokok, sangat mudah terkena flek paru-paru, melalui baju sebagai sarana asap rokok itu menempel.

Jadi bagi pemerintah, tunggu kapan lagi untuk melarang atau membatasi peredaran rokok? Sudah jelas, fakta menyebutkan cukai rokok dan pajak yang disetorkan produsen rokok sangat kecil dibanding pengeluaran pemerintah pada sektor kesehatan untuk mengobati rakyat yang sakit akibat asap rokok!!!