Monday, 18 November 2019

Dolar Melambung, Kontraktor Besar Terancam Bangkrut

Selasa, 3 September 2013 — 12:02 WIB
Foto- ilustrasi

Foto- ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota)-Kontraktor besar yang tergabung dalam Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) terancam bangkrut akibat nilai tukar Dolar Amerika yang terus melambung. Jika tidak segera diatasi  diperkirakan jutaan pekerja konstruksi akan ikut kehilangan pekerjaan.

“Harga bahan material utama konstruksi, baik yang impor maupun lokal terus mengalami kenaikan. Padahal keuntungan yang kami dapatkan tidak terlalu besar,” kata Ketua Umum AKI Sudarto.

Menurut Sudarto, harga bahan konstruksi  impor maupun yang mengandung bahan baku impor seperti peralatan listrik, peralatan proyek, aspal, marmer, gypsum, granit, baja, dan bahan lainnya terus merangkak mengkuti nilai tukar dolar. Kondisi ini tentu saja membuat beban pengeluarkan para kontraktor menjadi semakin berat.

Jika dampak kenaikan harga material tersebut tidak segera ditanggulangi dengan cara yang tepat oleh pihak pemberi kerja maupun kontraktor sendiri,  maka pencapaian target pekerjaan pembangunan proyek-proyek akan mengalami kendala yang pada akhirnya akan berdampak pada perekonomian nasional.

AKI sendiri sangat menyadari bahwa penyelesaian proyek-proyek, baik infrastruktur maupun komersial sangat dibutuhkan dan perlu didukung penyelesaiannya untuk memperkuat perekonomian nasional. Namun dengan kondisi saat ini jika tidak ada langkah  yang tepat dikhawatirkan kondisi perekonomian bisa terganggu.

Menyikapi kondisi demikian maka AKI sepakat untuk menentukan beberapa sikap. Pertama, mendukung sikap pemerintah dalam melakukan langkah-langkah perkuatan ekonomi khususnya melalui penyelesaianproyek infrastruktur yang sedang dan akan dilakukan tepat waktu dengan kualitas yang dipersyaratkan.

Kedua meminta pemerintah memelihara suasana kondusif bagi pelaku jasa konstruksi dalam penyelesaian proyek pemerintah dengan memberi penyesuaian harga secara penuh. Ketiga meminta kepada pemberi kerja non pemerintah untuk memberikan penyesuaian harga yang wajar bagi proyek yang berjalan, termasuk proyek nasional strategis seperti pembangkitlistrik.

Dan yang keempat meminta jika dalam hal penyesuaian harga yang diusulkan tidak tercapai kesepakatan, maka kontraktor diperbolehkan berhenti bekerja tanpa dikenakan sanski.

(faisal/sir)