Saturday, 07 December 2019

Jauh-jauh mencari Kerja, Malah “Kerjai” Teman Kerja

Minggu, 6 Oktober 2013 — 19:34 WIB
NID-6-Okt13

BELUM  jadi ketua MK, baru jadi buruh pabrik saja Samidin, 27, sudah tak kuat godaan. Teman sekerjanya, Meini, 24, “dikerjain” sampai melahirkan. Pusing bagaimana harus ngurus bayinya, orok merah itu malah ditinggal di emperan rumahnya di Purworejo. Keruan saja jadi urusan polisi.

Yang namanya setan jika mau menjerumuskan orang tak pandang bulu. Buruh pabrik atau ketua MK Akil Mochtar, semua bisa jadi sasaran tembak. Cuma bedanya, ketika jadi masalah gaungnya sangat berbeda. Kasusnya Akil Mochtar merajai pemberitaan dalam negeri, bahkan pers manca negara.  Sedangkan skandalnya buruh pabrik macam Samidin – Meini paling banter hanya masuk kolom ini. Itupun namanya terpaksa disamarkan.

Samidin aslinya dari Kabupaten Nganjuk Jatim, tepatnya dari daerah pegunungan di Kecamatan Sawahan. Di kampungnya sendiri tak ada pekerjaan yang menjanjikan, sehingga dia terpaksa cari lahan pengembaraan di kota lain dan sampailah di Purworejo (Jateng). Di kota ini dia berhasil menikah dengan warga Mlaran, Kecamatan Gebang, dan sudah memiliki anak.

Lagi-lagi masalah ekonomi belum berhasil diselesaikannya. Untuk menghidupi anak istrinya Samidin lalu bekerja di sebuah pabrik di kota Magelang, 30 Km sebelah utara kota Purworejo. Karena di kota getuk itu tak mampu ngontrak rumah, terpaksa dia tinggalkan anak istrinya di Mlaran, dan seminggu sekali baru dia pulang dalam rangka setor benggol dan bonggol.

Urusan bonggol memang bisa hadir sewaktu-waktu, tak bisa dipas seminggu sekali. Di kota Magelang yang dingin, rasa sepi itu demikian mencekam, sehingga Samidin kemudian gresek-gresek mencari sasaran teman kerjanya sendiri, Meini. Celakanya, gadis itu mau saja dibuat pelampisan teman yang kesepian karena jauh bini. Setelah beberapa kali berkoalisi komplit dengan eksekusi, tahu-tahu perut Meini hamil. Bingunglah Samidin mencari penyelesaian.

Mau dikawini, di samping ekonomi sangat tidak memungkinkan,  istri di Purworejo pasti mencak-mencak. Dia tahu sekai karakter bininya, bila sudah marah sulit diajak kompromi. Mau dibujuk dengan pendekatan makan siang ala Jokowi, tak ada jaminan berhasil. Makan siangnya sih bisa nambah dua piring, tapi kesiapannya dimadu jelas takkan didapat.

Mati langkah akibat ulahnya sendiri, nasib Meini hanya digantung tanpa juntrung. Beberapa bulan kemudian sang WIL itupun melahirkan. Tambah pusing Samidin.  Dengan menghilangkan segala rasa malu, bayi itu dibawa diam-diam ke rumah istrinya tengah malam, lalu digeletakkan di emperan rumah. Selanjutnya dia buru-buru kabur kembali ke Magelang bersama sidoi.

Ny. Samidin tentu saja terkaget-kaget ada tangisan bayi di emperan rumah. Di kala dia masih bertanda tanya siapa pemilik bayi itu, tiba-tiba Meini telepon kepada istri Samidin, minta tolong agar bayi itu dirawat secara baik-baik, karena terus terang saja orok tersebut merupakan hasil perselingkuhannya. ”Kamu selingkuh dengan siapa, kok dibebankan pada saya? Enak saja…..” sergah istri Samidin.

”Dengan suamimu, Mbak!” jawab telepon diseberang. Ny. Samidin baru yakin setelah suaminya mengambil alih HP itu dan menjelaskan duduk dan berdirinya persoalan. Tentu saja sang istri mencak-mencak. Meski bayi itu dirawat, tapi dia juga melaporkan Samidin – Meini ke polisi dengan tuduhan ganda. Yakni, perselingkuhan dan menelantarkan bayi.

Nah lho, Samidin bak tangan mencencang bahu memikul. (KR/Gunarso TS)