Sunday, 15 December 2019

25% Suami-Isteri di Kabupaten Bekasi Tak Miliki Surat Nikah

Rabu, 6 November 2013 — 16:19 WIB
akad-b

BEKASI (Pos Kota) – Sebanyak 25 persen dari 900 ribu pasangan suami isteri di Kabupaten Bekasi, tidak memiliki surat nikah.

“Mereka menikah di bawah tangan,  melalui amil kampung dan tidak didaftarkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan,” kata Nani Suwarni, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bekasi

Ditemui Pos Kota, disela-sela sidang isbat (penetapan waktu nikah) di Gedung PGRI Tambun Selatan, Nani mengatakan, surat nikah penting untuk pengurusan administrasi kependudukan keturunannya, “Kalau tidak ada surat nikah, akte kelahiran tidak dapat diproses,” katanya.

Karena itu, untuk memberi kemudahan kepada pasangan rumah tangga yang belum memiliki surat nikah, pihaknya menggelar sidang isbat di tiap-tiap kecamatan.

Target tahun ini sudah dianggarkan 850 pasang, namun baru terealisasi 571 pasang, “Memang perlu sosialisasi dari para kepala desa, lurah kepala dusun, RW dan RT,” katanya, ketika dsinggung target tidak tercapai.

Karena itu, Nani yang didampingi Bambang, Kabid Catatan Sipil dan Ahmad Syaebani, Kasie Kependudukan Tambun Selatan, berharap tahun depan target tercapai.

LUPA AMILNYA

Wah saya lupa amilnya, Pak Hakim,” ujar Suparman, 65, lelaki asal Cibitung saat mengikuti sidang isbat. Dia mengaku menikahi Nenih, pada tahun 1974 melalu amil kampung.

Yusuf Effendi, Ketua Majelis Hakim dari Pengadilan Agama Cikarang pun, bertanya pada saksi, sang saksi pun mengaku hanya menyebut amil Udin, tetapi sekarang sudah meninggal.

Suparman mengikuti sidang isbat karena tiga anaknya yang sudah berumah tangga belum memiliki akte kelahiran, “Kasihan dia, karena mau masuk PNS,” katanya.

Di Gedung PGRI, ada 46 pasangan suami-istri yang ikut sidang isbat, 25 pasang dari Kecamatan Tambun Selatan dan 21 pasang dari Kecamatan Cibitung.

“Biaya sidang semua ditanggung Pemkab Bekasi, mereka hanya melengkapi beberapa persyaratan,” imbuh Nani.

Sementara itu Agung, 33, mengaku senang mengikuti sidang isbat, warga Mangunjaya Indah 1 ini mengaku tidak memiliki buku nikah karena perkawinanya di bawah tangan.

“Waktu itu belum punya uang, juga banyak keperluan mendadak,” kata ayah dua anak ini. Dia bersyukur dapat sidang tanpa membayar. (Saban/d)

Teks
Suasana sidang isbat (penetapan waktu pernikaha,) bagi pasangan suami-istri yang belum memiliki buku niklah di Kecamatan Tambun Selatan. (Saban)