Sunday, 17 November 2019

Enam Parpol Diperkirakan Tidak Lolos ke Senayan

Kamis, 12 Desember 2013 — 17:00 WIB
galoloslo1212

JAKARTA (Pos Kota) – Partai politik peserta Pemilu 2014 harus segera kerja keras. Sebab, dari hasil survei lembaga riset Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), ada enam parpol terancam tidak akan lolos ke Senayan, karena tidak mampu mencapai 3,5 persen ambang batas DPR.

“Partai politik yang berpeluang tidak lolos ke Senayan pada Pemilu 2014, Partai Nasdem, PKS, PAN, Partai Hanura, PBB dan PKPI,” kata Koordinator Riset SSS, Ridho Imawan Hanafi, di Jakarta, Kamis (12/12).

Menurut Ridho, partai-partai yang lolos adalah PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKB, dan PPP. Sementara kecenderungan lain, partai-partai politik Islam baik yang memiliki asas maupun basis massa Islam cenderung menempati posisi papan bawah. PDIP teratas, karena fenomena Jokowi. “Ini merupakan elektabilitas partai ketika PDIP sebagai partai mengajukan Joko Widodo sebagai capres,” ujarnya.

Meskipun demikian, Ridho mengungkapkan peluang keenam partai di atas belumlah tertutup. Mereka masih bisa selamat dari ambang batas parlemen dengan syarat meningkatkan kinerja.
“Masih ada suara yang bisa digarap, jadi di antara 6 parpol itu masih punya kesempatan lolos,” katanya.

Direktur Eksekutif SSS, Ari Nurcahyo menjelaskan alasan mengapa partai-partai tersebut tidak lolos. Kasus korupsi, sikap berlebihan, dan faktor ketokohan menjadi penyebabnya.

Pertama, PKS. Kasus korupsi yang mendera kader-kadernya terutama presidennya, Luthfi Hasan Ishaq sangat mempengaruhi preferensi publik. Meskipun PKS membuat terobosan-terobosan seperti menggelar pemilihan raya (pemira) capres untuk menggaet kader tetapi konstituen mereka tetap terpengaruh isu korupsi elit-elitnya.

Kedua, PAN. Faktor yang mempengaruhi adalah tidak adanya figur sentral yang kuat seperti pada zaman Amien Rai dan Sutrisno Bachir. Ari menilai ketokohan Hatta Rajasa tidak mampu mengangkat partai berbasis muslim perkotaan itu.

“Sejarah kita adalah sejarah tokoh. Ketokohan Hatta kurang bisa mengerek PAN. Kemudian, proses konsolidasi di daerah tidak berjalan baik,” lanjut Ari.

Ketiga Partai Nasdem. Meskipun memiliki kekuatan media, partai tersebut tidak mendapat tempat di kalangan pemilih. Titik persoalan ada pada Surya Paloh. Publik memandang negatif ketidakjelasan Surya apakah akan maju sebagai capres atau tidak dari partai tersebut.

“Publik menduga, Nasdem itu pada ujungnya mengajukan Surya Paloh. Tanda tanya itu katakanlah berkorelasi negatif. Lebih baik dijelaskan saja siapa yang maju. Ketika publik bertanya-tanya, belum ada identifikasi Nasdem itu Surya Paloh,” jelasnya.

Keempat, Hanura. Ari melihat Hanura tidak terlalu berbeda dengan Nasdem. Walaupun memiliki kekuatan media dalam diri Hary Tanoesudibjo, Hanura masih kesulitan mendongkrak elektabilitas. Bahkan, hadirnya media bagi Hanura justru menjadi bumerang karena digunakan untuk sosialisasi secara berlebihan.

Berikut adalah elektabilitas partai-partai politik hasil kajian SSS: 1) PDIP 17,4%, 2)Golkar 17,01%, 3) Gerindra 10,51%, 4) Demokrat 8,3%, 5) PKB 4,18%, 6) PPP 3,65%, 7) Nasdem 3,41%, 8) Hanura 3,16%, 9) PKS 3,15%, 10) PAN 2,54%, 11) PBB 0,87%, 12) PKPI 0,29%, tidak tahu 22,13%, tidak memilih 1,6%, rahasia 1,87%. (winoto)

Teks : Gedung DPR di Senayan

Terbaru

Kebakaran di ruko Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat. (dwi)
Minggu, 17/11/2019 — 17:33 WIB
Ruko di Jalan Gajah Mada Kebakaran
Ilustrasi
Minggu, 17/11/2019 — 16:55 WIB
Tahun Ini, Ada 1.491 Janda-Duda di Purwakarta
Komisi III Fraksi NasDem, Taufik Basari (rizal)
Minggu, 17/11/2019 — 16:51 WIB
DPR Dukung Wacana Menko Polhukam Hidupkan KKR