Friday, 22 November 2019

Berkas Kasus AAG Masih Bolak-balik

Minggu, 2 Februari 2014 — 17:27 WIB
Asian Agri

JAKARTA (Pos Kota) – Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) AK. Basyuni Masyarif mengakui pihaknya belum dapat melimpahkan berkas delapan tersangka kasus dugaan penyalahgunaan pajak oleh Asian Agri Group (AAG) ke pengadilan, karena masih mandek di Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan.

“Kita tunggu saja. Yang pasti, petunjuk-petunjuk (P19), baik aspek materil maupun formil sudah disampaikan oleh tim jaksa peneliti kepada PPNS Ditjen Pajak, beberapa waktu lalu,” kata Basyuni menjawab bolak balik kasus AAG, anak usaha Garuda Mas milik taipan Sukanto Tanoto di Jakarta, kemarin.

Dia tidak mengetahui alasan begitu lamanya, PPNS Ditjen Pajak melengkapi petunjuk yang sudah disampaikan oleh Kejaksaan Agung. “Saudara bisa tanyakan ke sana (Ditjen Pajak),” saran Basyuni.

Dirjen Pajak Fuad Rahmany yang ditemui usai eksekusi AAG di Kejagung, menyatakan PPNS Ditjen Pajak tengah mendalami dan melengkapi petunjuk dari tim jaksa peneliti. “Pada waktunya, setelah dilengkapi berkasnya akan dilimpahkan ke Kejagung.”

Basyuni  gembira eksekusi terhadap salah satu tersangka Suwir Laut dan telah berstatus terpidana dapat dieksekusi oleh Kejari Jakarta Pusat, meski pembayaran dilakukan secara mencicil sebesar Rp200 miliar setiap bulan sampai Oktober 2014.

Selain itu, AAG telah membayar tunai Rp719 miliar dan telah disetor ke negara. Begitu juga ke Ditjen Pajak, sebesar setengaj dari kewajibannya sebesar Rp1,9 triliun. Uang sekitar Rp900 miliar dibayar oleh AAG secara tidak langsung, karena merupakan kewajiban untuk mengajukan banding ke pengadilan pajak.

TIGA JAMPIDUM

Berkas perkara delapan tersangka kasus pajak ini sudah dilimpahkan sekitar tiga tahun lalu oleh Kasubdit Intelijen Ditjen Pajak Pontas Pane ke Jampidum Abdul Hakim Ritonga.

Namun sampai Jampidum sudah beerpindah yang keempat, yakni Basyuni Masyarif, berkas terebut tak kunjung selesai. Padahal sudah ada payung hukum, berupa putusan Mahkamah Agung terhadap Suwir Laut, 18 Desember 2012. Dia dipidana selama dua tahun dengan masa percobaan tiga tahun.

Delapan tersangka lain yang hingga kini belum jelas penyelesaiannya, adalah Eddy Lukas, Linda Raharja, Direktur Asian Agri Tio Bio Kok alias Kevin Tio, Willihar Tamba, Laksamana Adiyaksa dan Semion Tarigan, serta Direktur PT Tunggal Yunus Estate dan PT Mitra Unggul Pusaka Andrian.

Mereka dijerat  Pasal 39 UU Nomor 28/2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan, karena menyampaikan data palsu dalam Surat Pemberitahuan Tahunan. (ahi/d)