Thursday, 21 November 2019

Musim Kemarau, Waspada Kebakaran Hutan

Senin, 17 Maret 2014 — 21:20 WIB
tralia

BOGOR (Pos Kota) – Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan IPB dan Chair, Southeast Asia Wildfire Network, Bambang Hero Saharjo memperingatkan pemerintah, agar mewaspadai kebakaran hutan menjelang musim panas usai musim hujan berhenti.IPB menurutnya, sangat serius memberi sinyal ini ke pemerintah.

Bambang Hero Saharjo dalam disukusi Penanggulangan Kebakaran Hutan Riau di Fakultas Kehutanan, Senin (17/03), menuturkan, penyebab kebakaran hutan terjadi, selain ada kecenderungan pembiaraan pembakaran, juga karena alam berubah.

Ditambahkan, penurunan luas kawasan fungsi hutan sekitar 40 persen dari tahun 2008 hingga 2013.
“Ini berbahaya, fungsi hutan berubah juga karena pemerintah daerah terlalu mengobral surat perijinan hak guna lahan,”paparnya.

Rekaman cintra Satelit NOAA 18 menunjukan, titik api atau hotspot di Provinsi Riau terus meningkat.

Bahkan titik api meningkat dari 79 menjadi 145 titik yang tersebar di delapan kabupaten atau kota terjadi sejak Januari 2014 dengan luas areal lebih dari 10.000 Ha.

“Kebakaran di Riau terjadi di musim hujan. Ini pemerintah lalai. Waspada bila indonesia memasuki musim kemarau dan bila tidak ada penanganan secara komprehensif bisa diperkirakan akan terjadi kebakaran lebih dasyat,” kata Bambang.

Bambang menambahkan, pembakaran secara sengaja dilakukan orang tidak bertanggung jawab, karena masalah biaya.Menurutnya, akan terjadi biaya tinggi, jika lahan digunakan, memakai metode lain.

“Mereka mencari modal murah yakni membakar. Kalau cara lain, akan utuk waktu yang cukup lama. Misalnya, untuk membuka 1 Ha lahan dengan cara lain, maka butuh biaya sekitar Rp50 juta dengan durasi waktu kurang lebih 2 hingga 4 minggu. Sedangkan dengan cara membakar, estimasi biaya hanya sekitar Rp1 hingga 2 juta,”ujarnya. (yopi)

Foto ilustrasi