Tuesday, 19 November 2019

Cegah Korupsi Tanamkan Budi Pekerti

Senin, 24 Maret 2014 — 8:52 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Kurikulum pendidikan anti korupsi di sekolah dasar sampai dengan sekolah lanjutan atas tidak tepat diajarkan kepada siswa-siswi di sekolah.

Siswa sebaiknya lebih ditanamkan  kepada pendidikan budi pekerti dan moral sejak dini.

Itu disampaikan pakar hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Muzakir yang dihubungi di Jakarta, Minggu (23/03). “Melalui pendidikan budi pekerti dan moral itu itulah siswa-siswi ditanamkan sikap jujur,” papar Muzakir.

Dikatakan dia, dengan adanya kurikulum pendidikan anti korupsi itu sama saja menjadikan korupsi sebagai kejahatan tunggal, padahal kejahatan bukan hanya korupsi saja tapi juga ada kejahatan lainnya.

Apalagi, menurut Muzakir, banyak para orangtua yang sudah mengajarkan kepada anak mereka tentang praktik korupsi, seperti suap, atau menyogok saat memasukkan anaknya ke sekolah tertentu.

“Praktik korupsi ini sudah terjadi di sekolah bagaimana menerapkan kurikulum pendidikan anti korupsi, kalau praktik korupsi sudah berlangsung di sekolah,” papar Muzakir.

“Saya tidak setuju kalau kurikulum pendidikan anti korupsi diajarkan di sekolah. Lebih pendidikan budi pekerti dan moral saja yang sudah menyangkut semua aspek kehidupan,” papar Muzakir.

Ia menambahkan menanamkan pendidikan anti korupsi sejak dini kepada siswa-siswi, bukan melalui kurikulum, tapi bagaimana penyelenggara negara memberikan contoh yang baik untuk tidak korup.

“Selama  budaya korupsi belum hilang dalam penyelenggaraan negara kita, maka itu akan terus menciptakan generasi yang korup. Karenanya, penyelenggara negara, atau birokrasi agar menghilangkan kultur yang korup kalau memang ingin menanam anti korupsi pada generasi kita,” papar Muzakir. (Johara)