Sunday, 15 December 2019

Rizal Ramli : Ekonomi Kerakyatan Hanya Slogan

Sabtu, 5 April 2014 — 14:16 WIB
slogan

TEGAL (Pos Kota) – Ekonomi kerakyatan sebuah rumus jitu untuk memberikan kesejahteraan. Akan tetapi, rumusan ekonomi kerakyatan itu hanya menjadi slogan saja bagi tokoh, calon presiden (capres) dan calon legislatif. Pada pelaksanannya, justru ekonomi neo liberalisme yang diterapkan.

“Semua capres, bicara antineoliberalisme, tetapi hanya sebatas slogan. Dalam praktiknya, justru kebijakan bukan berpihak pada rakyat tetapi kepada kaum kapitalis,” kata Mantan Menko Perekonomian era Gusdur, Rizal Ramli, di Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (5/4).

Dengan tegas Rizal mengatakan, banyak capres bicara ekonomi kerakyatan hanya sekadar untuk popularitas atau menaikan elektabiltas semata. Rizal melanjutkan, mereka menolak disebut neo liberalisme karena citra buruk sistem ekonomi tersebut.

Meski tidak menyebut nama siapa saja tokoh-tokoh neoliberalisme, tetapi menurut Rizal itu bisa terlihat dari kebijakan-kebijakan ekonomi yang telah berlangsung.

Dia mencontohkan kebijakan impor berlebihan atas komoditas yang sebenarnya bisa diproduksi di Indonesia. Impor komoditas pertanian seperti bawang misalnya telah membuat petani Indonesia kehilangan daya saing, harga jatuh. Parahnya, kondisi ini diciptakan oleh kartel yang didukung kebijakan pemerintah.

“Saat musim panen, justru diadakan impor besar, akibatnya harga jatuh, petani kehilangan semangat menanam, kemudian komoditas semakin langka, dan ini mendorong impor yang lebih besar lagi,” ujarnya.

“Yang paling penting dihapus dulu kartel. diganti sistem tarif. Siapa saja boleh, tetapi petani tetap dilindungi. Perlu calon pemimpin yang berani melawan kartel ini” ungkapnya.

Rizal memaparkan, pemerintah juga misalnya gagap dalam mendorong perkembangan industri pengolahan makanan. Indonesia punya potensi, karena semua bahan pokok pengolahan makanan ada. Sayangnya tidak dikelola dengan baik.

Makanan kecil, di Supermarket dan waralaba, misalnya banyak produk impor. Padahal kualitas makanan kecil Indonesia juga baik. “Kelemahannya hanya pada kemasan saja. Pemerintah,” kata Rizal.

Seharusnya pemerintah mendorong dengan membantu pelatihan membuat kemasan makanan yang menarik, serta menyediakan alat-alatnya.

“Ini sebenarnya tidak mahal, tetapi tidak dilakukan pemerintah,” katanya. (Rizal)

Teks : Rizal Ramli ketika di Tegal (rizal)