Wednesday, 23 October 2019

IPB Tawarkan Solusi Pengendalian Kebakaran Hutan

Kamis, 10 April 2014 — 18:28 WIB
IPB

BOGOR (Pos Kota) – Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu dan mencapai puncaknya ketika kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Timur pada 1982/1983 yang menghanguskan sekitar 3,6 juta hektar hutan dan lahan.

Kebakaran terjadi lagi pada tahun 1994 dengan luas sekitar 5,11 juta hektar, pada 1997/1998 sekitar 10-11 juta hektar, pada 2006 sekitar 6 juta hektar, dan terus terjadi hingga hari ini dengan dampak negatif yang mengkhawatirkan. Sejak awal 1970-an, Institut Pertanian Bogor (IPB) terus mengikuti perkembangan dan berupaya menyumbang saran pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui bidang pendidikan melalui pengajaran mata kuliah Perlindungan Hutan dimana di dalamnya terdapat materi kebakaran hutan.

Seiring waktu peran serta IPB melalui Fakultas Kehutanan dalam pengendalian kebakaran hutan kian meningkat. Bertempat di Executive Lounge, Kampus IPB Baranangsiang, Kamis (10/4) Prof. Yanto Santosa (Guru Besar Ekologi dan Manajemen Satwa Liar, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB), Prof. Bambang Hero Saharjo (Guru Besar Perlindungan Hutan, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB), dan Prof. Budi Indra Setiawan (Guru Besar Hidrologi Departemen Teknik Sipil, dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB) memaparkan topik “Solusi IPB untuk Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.”

Ini salah satu bentuk kepedulian IPB dalam memberikan solusi terbaik terhadap persoalan bangsa yakni pengendalian terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun. Prof. Bambang dalam kesempatan ini memaparkan tentang kondisi kebakaran hutan dan lahan di Riau pada 2013-2014.

“Selama ini semak dan rumput ditebas dan dibakar sehingga mengepulkan asap. Sekarang kita memanfaatkan semak dan rumput menjadi pakan. Kita memasukan inovasi IPB dimana rumput bisa untuk pakan ternak dan bertahan selama dua bulan. Satu hektar bisa 50 ton. Ini bisa membantu program swasembada sapi yang sedang dicanangkan pemerintah. Ini sudah dilakukan di Sumatera Selatan. Fesesnya diolah dengan alat sederhana dan menghasilkan biogas. Sementara urinnya bisa dijadikan pupuk. Jadi  biogasnya bisa menyalakan listrik dan kompor,” kata Prof. Bambang.

Prof. Budi Indra Setiawan memaparkan, lokasi kebakaran tersebar tidak hanya di perkebunan sawit dan hutan tanaman industri, tapi juga kawasan lindung dan konservasi baik di lahan kering maupun di lahan basah. (yopi/yo)

Foto: Istimewa