Friday, 22 November 2019

Orang Miskin Diurus Negara

Sabtu, 12 April 2014 — 6:47 WIB

Orang miskin diurus negara

Oleh S Saiful Rahim

“HARI ini rasanya ada yang berbeda di warung ini. Seperti ada yang kurang deh,” kata seorang pelanggan yang, meniru gaya Dul Karung, masuk warung langsung mencomot gorengan.

“Iya. Gak ada singkong goreng. Kalau begini terus terpaksa aku tidak akan sering ke sini lagi,” tanggap Dul Karung sambil menyeruput teh manisnya.

“Kalau kau akan jarang ke sini, atau sama sekali tak datang pun bukan masalah bagi Mas Wargo. Bahkan dia mungkin lebih senang. Karena, kalau datang pun kau ngutang melulu. Bikin rusak pembukuan warung saja,” sela orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Mudah-mudahan di masa pemerintahan mendatang ini aku tidak banyak berutang lagi,” jawab Dul Karung seenaknya.

“Apa hubungannya utang-utangmu dengan pemerintahan baru? Apa kau akan jadi anggota DPR atau malah jadi menteri,” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Eh, jangan salah ya Bung! Jangan mengira anggora DPR itu gak punya utang. Justru mereka semua berutang dan tak ada satu pun yang sudah membayar lunas utangnya,” kata si Dul berapi-api.

“Kau jangan memfitnah, Dul. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan,” sela seseorang entah yang mana dan siapa.

“Ini bukan soal fitnah atau fathanah, tetapi kenyataan. Coba ingat-ingat apa yang mereka janjikan dalam kampanye pekan lalu, bandingkan dengan kenyataannya setelah jadi anggota DPR kelak? Apalah utang-utang yang dijanjikan di kampanye itu dilunasi? Apalagi yang disebut petahana atau ini kemben, eh incumbent. Janji yang lima tahun lalu belum dibayar, tambah lagi dengan janji baru. Waduh ngitungnya susah, apalagi bayarnya,” jawab Dul Karung tambah menyala-nyala.

“Lalu apa hubungannya pemerintahan baru dengan utang-utangmu?” tanya orang yang di duduk di ujung kanan bangku panjang satu-satunya di sana.

“Kan katanya Pemilu itu, antara lain, untuk membentuk hari depan dan pemerintahan yang lebih baik. Pemerintahan yang lebih baik tentu yang sedikit utangnya kan?” kata Dul Karung mencoba meyakinkan.

“Apa kalau pemerintah utangnya sedikit, utangmu pun ikut ciut seperti balon bocor?” sela orang duduk tepat di sebelah Dul Karung.

“Orang yang duduk di pemerintahan itu kan pemimpin? Dan pemimpin itu kan panutan, orang yang patut ditiru. Jadi kalau pemerintahnya gak banyak utang, sebagai rakyat, aku juga akan meniru tidak banyak utang.”

“Tetapi kau mau bayar utang, uangnya dari mana? Kerja nggak, dagang ora,” kata orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung memotong omongan si Dul.

“Tanggung jawab pemerintahlah. Kan menurut UUD negeri kita orang miskin menjadi tanggungan negara,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung Mas Wargo. (syahsr@gmail.com