Thursday, 14 November 2019

Jakarta Studi Center : PDIP 30 Kursi, Gerindra 14, Golkar 12 Kursi

Minggu, 13 April 2014 — 23:41 WIB

MATRAMAN – Hasil kajian, analisa dan pantauan di 4.000 tempat pemungutan suara (TPS) di Jakarta, posisi PDIP menjadi juara dengan mengantongi 28,49 persen. Sedangkan, Gerindra 12,33 persen, PPP 10,91 persen, dan Golkar 9,96 persen.

Jika mengacu dari 106 kursi di DPRD DKI, maka PDIP akan mendapatkan 30 kursi, Gerindra 14 kursi, PPP 12 kursi, Golkar 11 kursi, Hanura 8 kursi, PKS 8 kursi, Demokrat 8 kursi, PKB 6 kursi dan Nasdem 5 kursi, serta PAN 4 kursi.
“Suara Demokrat, Hanura, dan PKS bersiang ketat,” Ali Sadikin, Direktur Eksekutif Jakarta Studi Center (JSC), saat jumpa pers di kawasan Matraman, Jaktim, Minggu (13/4)..

Lebih jauh dipaparkan Ali Sadikin, Partai Golkar dan PPP diprediksi masuk zona aman dalam memperebutkan kursi pimpinan DPRD DKI Jakarta. Ada peningkatan Golkar, ungkapnya. Dari 9,03 persen menjadi 9,96 persen. “Jadi, PPP dan Golkar masuk zona aman untuk kursi pimpinan DPRD DKI,” tegas  Ali Sadikin.

Dengan masuknya Golkar dan PPP ke zona aman, secara otomatis posisi pimpinan dewan tersisa satu dari lima kursi yang diperebutkan. “Kursi ketua dewan direbut PDIP. Gerindra, Golkar, dan PPP masing-masing dapat wakil ketua,” ujar Ali Sadikin,

Mantan Ketua Umum HMI Jakarta melanjutkan, masih ada 1 kursi pimpinan yang akan diperebutkan. Kursi ini diperebutkan oleh PKS, Demokrat, dan Hanura. “Tiga parpol ini akan bertarung memperebutkan satu kursi. Yang suaranya banyak, dia yang dapat,” ungkapnya.

Menurut Direktur Eksekutif Jakarta Studi Center (JSC), Ali Sadikin, banyak partai politik yang suara merosot tajam di Ibu Kota pada Pileg 2014 ini, seperti Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Demokrat dan PKS saat Pemilu 2004 dan 2009 adalah jawara di DKI, tapi tahun ini suara Demokrat terbelah-belah. Mereka lari ke PDIP, Gerindra, Golkar, Hanura dan Nasdem. Sedangkan suara PKS lari ke PPP dan PKB. Suara-suara yang tadinya memilih PKS menjatuhkan pilihan ke PPP dan PKB,” ujar Ali di Jakarta, Jumat (11/4/2014).

LIMPAHAN PKS

Hancurnya suara Demokrat dan PKS, kata Ali, disebabkan beberapa faktor. Jika ditingkat nasional, Demokrat habis digempur soal isu korupsi dengan ditangkapnya petinggi-petinggi Demokrat, seperti Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng.

“Kalau di Jakarta, peran kader Demokrat di DPRD tidak maksimal padahal mereka mempunyai 34 kursi,” tuturnya.

Sama halnya dengan PKS, kata Ali, partai berasas Islam itu digempur habis-habisan setelah Ketua Umumnya tertangkap korupsi soal kasus sapi.

“Tragisnya ada banyak cewek dan artis yang terlibat di kasus sapi, dan peran PKS di DPRD juga sangat semu, mereka lebih condong diam melihat carut marutnya ibukota akibat banjir dan macet,” bebernya.

Menurut Ali Sadikin, PDI Perjungan, Golkar, dan Gerindra meraih berkah dari terbelahnya suara Demokrat. Sedangkan, PPP dan PKB limpahan dari PKS.

“Di sinilah bedanya Demokrat dan Golkar. Golkar mampu memainkan isu-isu strategis di DPRD seperti KJP dan KJS. Kalau Demokrat dan PKS cenderung diam,” lanjutnya.

Partai Golkar di DKI Jakarta, lanjut Ali, para Calegnya bekerja keras dan dikenal disetiap daerah pemilihannya. “Pasca reformasi Golkar dan PPP di DKI suaranya selalu stag. Tapi, akibat lemahnya Demokrat dan PKS, kedua parpol itu mendapatkan berkah suara,” lanjut mantan Ketua HMI Cabang Jakarta ini. (dms)