Wednesday, 16 October 2019

Nasib ya Nasib, Mengapa Begini?

Rabu, 21 Mei 2014 — 1:31 WIB
Soes-21M

“IBU,sekarang kita bakalan punya presiden baru, ya?”ujar seorang wanita,buruh cuci dari rumah ke rumah pada ibu rumah tangga yang dibantunya.

“Ya,semua bakalan baru, Presiden baru, menteri-menterinya juga, kemukinan banyak yang baru, anggota DPR-nya juga sebagian besar baru. Malah, Senayan bakalan dipenuhi sama artis cantik-cantik dan ganteng-ganteng.” Jawab sang majikan.

Soes-21M-475

“O,gitu ya Bu?” kata si pembantu. Dia pun terus melakukan pekerjaannya dengan serius. “Ngapain juga mikirin negara,ya? Kan sudah ada yang ngurus?”katanya dalam hati.

Toh, yang dia rasakan salama ini, hanya keributan di atas sana. Ribut-ribut di kabinet, ribut-ribut di DPR, ribut-ribut di pengadilan. Ribut-ribut berebut kursi, berebut proyek. Dan yang dia rasakan lagi, ketika harga-harga terus melambung, nggak pernah turun? Dan ribut-ribut para pejabat korup ditangkap KPK?

“ Jadi,nasib saya bakalan berubah nggak, ya Bu?” tanya si pembantu paruh waktu itu. Ya, sekadar bertanya.

” Wah, saya nggak bisa jamin. Kayaknya, sih kalau soal nasib kan urusan masing-masing?”

“O, gitu ya Bu? Terus, yang kemarin anggota DPR yang saya pilih ,nggak bisa bantu saya ya, Bu?” kata si pembantu itu lagi.

“Ya, mereka juga sibuk mikirin nasib sendiri, nasib keluarganya, nasib kawannya, nasib golongannya juga, kan?”

“O, gitu ya Bu?” kata si pembantu lalu pamit pada sang majikan untuk pindah membantu tetangga yang lain. Dalam satu hari, ibu tersebut memamg membantu tiga atau empat keluarga di lingkungannya, mencuci dan membereskan rumah mereka.

Dan itulah yang dilakukannya seiap hari, sejak dulu. Nasibnya, ya tetap tak berubah. Tetap jadi buruh cuci.

Nggak ngaruh, negeri ini dipimpin oleh siapa dan akan berubah menjadi orde apa.

Si pembantu pun hanya bisa bergumam dalam hati: ’Nasib, ya nasib, mengapa begini?!’ – massoes.

  • adi

    Yang pasti berubah menjadi tua.