Tuesday, 22 October 2019

Garuda-Banteng Bertarung Dahan Beringin Bersempalan

Jumat, 23 Mei 2014 — 7:44 WIB
beringin

PILPRES 2014 merupakan ajang pemilihan presiden paling seru sepanjang sejarah republik. Hanya ada dua calon, Jokowi lawan Prabowo, satu putaran selesai. Ironisnya, ketika garuda bertarung melawan banteng, kenapa pohon beringin justru dahannya bersempalan? Tetapi politik memang selalu dipenuhi orang-orang yang berebut kue kekuasaan. Siapa yang diprediksi menang, ke sanalah orang antri pembagian kue.

Setelah era reformasi, untuk ketiga kalinya bangsa Indonesia memilih presidennya secara langsung. Bila Pilpres 2004 dan 2009 Capresnya ombyokan, Pilpres 2014 ini hanya dua Capres, Joko Widodo (PDIP) dan Prabowo Subianto (Gerindra). Ini menjadi mirip-mirip negeri Paman Sam. Bila di sana hanya ada Capres Partai Republik dan Partai Demokrat, di sini ada PDIP dan Gerindra. Bedanya adalah, di AS tak ada mitra koalisi karena di sana tak ada budaya bikin partai lantaran Ketumnya pengin jadi presiden.

Seperti ARB ini misalnya, berjuang jadi Ketum Golkar karena pengin juga jadi Presiden RI. Sayang garis nasibnya lain. Meski paling awal deklarasi Capres, tapi jadi paling akhir bergabung ke Capres Gerindra gara-gara ”jualan” Capresnya tak laku. Ibarat kata, tak dapat kue yang besar, rontokan atau gogrogannya pun tak apa.

Nah, mental cari ”kue gogrokan” inilah yang membuat banyak elit politik Partai Beringin itu marah pada ARB. Yang terjadi kemudian, ketika banteng dan garuda itu baru ancang-ancang mau bertarung, banyak dahan dan ranting si beringin bersempalan. Mereka berlarian gabung ke kubu Jokowi – JK, karena tak rela Golkar hanya dibarter dengan ”gogrokan kue” yang namanya menteri.

Ternyata bukan hanya si beringin yang dahannya bersempalan, Hanura dan PKB pun juga tercerai-berai. Wiranto Ketum Hanura ke banteng, tapi HT dan Fuad Bawazir justru ke garuda. PKB idem dito, Rhoma Irama dan Mahfud MD yang terkena liver (sakit hati) kronis, membelot ke Gerindra. Peserta Konvensi Demokrat juga ada yang ke PDIP.

Pembelot dan yang menyempalkan diri itu memang selalu berprediksi, Capres pilihannya yang bakal menang. Ada yang motif pembelotan itu demi perubahan bangsa dan negara, banyak pula yang sekedar ingin perubahan nasib dirinya. Siapa tahu kelak dapat ”gogrokan kue” itu tadi. – gunarso ts

  • rengga irawan

    tul…