Tuesday, 12 November 2019

Proyek Sodetan Kali Ciliwung Dikeluhkan Warga

Rabu, 28 Mei 2014 — 10:55 WIB
sodetan

JATINEGARA (Pos Kota) – Proyek sodetan kali Ciliwung di Jalan Otista 3, Jatinegara, Jakarta Timur, dikeluhkan warga. Suara bising, kurangnya sosialisasi, serta keruhnya air yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari menjadi imbas yang dirasakan warga .

Sejumlah warga di RT 01/04, dan RT 01/05, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, mengaku belum pernah mendapat sosialisasi terkait proyek Kementerian PU yang dilaksanakan oleh PT Wika tersebut.

Vivi, 37, warga, mengaku kerap terganggu pada saat jam istirahat. “Dibilangnya sampai jam 19.00 WIB, tapi sampai jam 22.00 WIB terus dikerjakan. Alasannya macam-macam, dan terus dilakukan,” katanya, Selasa (27/5).

Menurutnya, penggalian sodetan yang menggunakan alat berat menimbulkan getaran, dan kebisingan hingga ke rumah warga yang berada di sekitarnya. Akibatnya, selain mengganggu jam istirahat warga, proyek tersebut membuat keramik, dan tembok rumah warga retak. “Air untuk keperluan sehari-hari menjadi kotor dan tak dapat digunakan,” tuturnya.

Vivi mengaku, hingga kini, dirinya dan warga tidak pernah mendapat sosialisasi mengenai proyek pembangunan sodetan. Padahal, proyek itu sudah berjalan sejak 10 Mei lalu. “Kalau terjadi sesuatu siapa yang tanggung jawab?. Kita sampai saat ini belum mendapat sosoalisasi proyek ini,” ungkapnya.

Sari, Ketua RT 001/05 mengaku, hanya satu kali diundang mengikuti rapat sosialisasi pengerjaan proyek Sodetan Kali Ciliwung. Namun, dalam rapat yang digelar pada Maret lalu itu tak disinggung mengenai rentang waktu dan teknis serta dampak dari pengerjaan proyek.

“Saya mau bilang apa ke warga karena memang tidak pernah disebutkan waktu pengerjaannya. Dan dalam sosialisasi itu dibilangnya akses Jalan Otista III masih bisa dilalui dengan satu arah, tapi ternyata ditutup semua akses jalannya,” katanya.

Dikatakan Sari, pihak Kementerian PU, dan Kelurahan Cipinang Cempedak menyebutkan akan ada sosialisasi lanjutan mengenai proyek. Namun, hingga pengerjaan sodetan dilaksanakan, sosialisasi lanjutan itu tidak pernah terjadi. “Sampai sekarang tidak pernah ada sosialisasi kedua,” katanya.

Akibat sosialisasi yang tak jelas, Sari mengatakan, selain menggangu ketenangan warga, pembangunan sodetan telah merugikan usaha di sekitar lokasi.
“Di sekitar lokasi ada showroom mobil, toko roti, pulsa, salon, dan material. Hampir semuanya mengeluh rugi,” katanya. (Ifand)

Foto Istimewa