Tuesday, 12 November 2019

Tetes Tetes Air Mata Itu

Jumat, 27 Juni 2014 — 7:25 WIB
sentil

MENETESKAN air mata. Bisa punya makna macam-macam ,bersedih atau suka cita. Jadi arti dari tetesan air mata memang tergantung suasana.

Kalau menetes ketika lulus ujian, mendapat hadiah ultah, menikah atau dapat hadiah undian, kejuaraan atau apalah. Itu pastinya air mata haru, suka cita, bahagia.

Namun, ketika air mata itu menetes, ketika menyaksikan suasana kematian, atau musibah lain, jelas itu pertanda kesedihan. Atau kekecewaan. Kecewa tidak lulus ujian, kecewa karena putus cinta dengan kekasih yang tak setia.

Bisa juga kecewa karena mendapat vonis majelis hakim. Vonis bersalah. Ada air mata di situ, misalnya ketika suami, adik atau kakak, dihukum karena bersalah melakukan tindak pidana, termasuk pidana korupsi.

Sebenarnya, hukuman yang dijatuhkan majelis hakim, bisa jadi wajar, seimbang atau juga bisa jadi lebih ringan dari apa yang diharapkan masyarakat. Korupsi ratusan milyar, hanya dihukum 5 tahun penjara, misalnya. Waktu selama itu, bagi terpidana sangat lama, karena sama dengan satu masa jabatan gubernur, walikota atau bahkan presiden.

Tapi, apa iya, terpidana bakalan melaksanakan hukum selama itu? Ah, rasanya hukum di negeri tercinta ini, masih banyak celah. Celah yang menguntungkan bagi terpidana.Seorang terhukum, bisa jadi nggak harus menunggu selama hitungan vonis yang dijatuhkan. Nggaklah. Karena dalam peraturan, bagi terpidana yang berkelakuan baik dalam menjalani hukumannya, dapat hadiah pengurangan hukuman. Atau, setelah menjalani sekian lama masa hukuman, bisa bekerja atau mengurus usahanya di luar penjara, dengan ketentuan malam hari kembali ke sel.

Ah, tapi sudahlah. Memang nggak boleh meneteskan air mata buat suami tercinta, adik tecinta, kekasih tercinta, walau dalam status terpidana? -massoes