Saturday, 19 October 2019

Banyak Tidak Penuhi Standar

Pengguna Masker Mewabah

Minggu, 29 Juni 2014 — 9:15 WIB
iluspeng

JAKARTA (Pos Kota) – Penggunaan masker atau respirator di wajah kini menjadi trend di kalangan masyarakat. Tak hanya mereka yang berada di jalanan atau rumah sakit,  bahkan sampai ke pusat perbelanjaan masker masih tetap dibiarkan menempel di wajah untuk menutupi mulut dan hidung.

“Mal memang kelihatannya bersih, tetapi tetap kita harus antisipasi,” ujar Meylani, karyawati dikawasan Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Sabtu (28/6).

Ia mengaku awalnya memang hanya menggunakan masker saat naik angkutan umum atau naik sepeda motor. Dengan kondisi angkutan umum yang sekarang sangat padat dan berdesak-desakan, jarak hidung antar penumpang menjadi sangat dekat. “Nah kalau ada penumpang yang batuk atau lagi pilek, kita jadi khawatir ketularan,” lanjutnya.

Namun kebiasaan menggunakan masker tersebut akhirnya terus berlanjut. Bahkan saat sudah turun dari angkutan umum, dan masuk ke dalam kantor atau saat pergi makan siang ke mal banyak orang masih membiarkan masker menempel di wajah.

“Sekarang masker kan aneka warna, bagus-bagus. Jadi kesannya malah trendi, nggak terkesan lagi sakit,” kata Meylani.

STANDAR KESEHATAN

Menurut Kepala Balitbangkes Kemenkes  Prof Tjandra Yoga Aditama,  trend penggunaan masker bermula pada kasus mewabahnya flu burung dan SARS pada 2006. Masyarakat memang sangat diimbau untuk melindungi diri dengan menggunakan masker.

“Tetapi masker yang banyak digunakan masyarakat banyak yang tidak memenuhi standar. Karena masker yang dibuat dari kain masih memiliki pori-pori yang memungkinkan kuman atau virus masuk,” jelasnya.

Masker yang memenuhi standar kesehatan, lanjut Tjandra, adalah masker berstandar NH59 . Masker tersebut mampu  membendung partikel debu terhalus. “Jika menggunakan masker yang biasa ataupun yang dijual belikan dipinggir jalan, hal itu tidak memenuhi standar kesehatan,” lanjutnya.

Untuk kondisi sekarang, penggunaan masker memang lebih ditujukan untuk melindungi diri dari paparan debu, asap rokok dan polusi lain. Meski tak memenuhi standar, Tjandra menilai itu menjadi solusi yang baik bagi masyarakat yang ingin terlindung dari paparan polusi udara.

“Sekarang masker dijual di Kaki-5 dengan model dan warna-warni yang menarik. Bisa saja digunakan tetapi sebaiknya tetap pilih masker berstandar yang banyak dijual di apotek,” tukasnya.

Tjandra juga menyarankan agar masker harus sering diganti-ganti. Jangan sampai satu masker digunakan untuk beberapa hari, tanpa pernah dicuci. Sebab masker yang digunakan berulang, tak hanya kotor tetapi juga mengandung banyak penyakit. (inung)