Wednesday, 23 October 2019

Bayi Prematur Memiliki Risiko Kesehatan yang Kompleks

Minggu, 14 September 2014 — 13:04 WIB
bayi-sub

JAKARTA (Pos Kota)- Bayi prematur memiliki risiko kematian 10 kali lipat dibanding bayi lahir cukup umur. Karena itu penanganan bayi prematur sejak awal kehidupanya harus dilakukan ekstra hati-hati.

“Semakin kurang berat lahir dan usia kehamilan, risiko kesehatan bayi premature semkain tinggi,” jelas spesialis Anak RS Mitra Keluarga dr Esther H Situmeang SpA disela temu media kemarin.

Beberapa risiko bayi prematur antara lain gangguan pernafasan, gangguan otak, jantung, gangguan saluran cerna, kuning, dan rentan terhadap infeksi. Pada jangka panjang bayi premature juga berisiko mengalami penyakit paru-paru kronis, gangguan penglihatan, pendengaran, cerebral palsy (lumpuh otak) dan gangguan tumbuh kembang lainnya.

Karena sedemikian kompleksnya gangguan kesehatan dari bayi prematur, menurut Dr Esther penanganan bayi prematur harus dilakukan sangat hati-hati. Penanganan dan perawatan bayi prematur memerlukan ketelitian dan perhatian serius, sehingga dibutuhkan keterampilan, pengetahuan dan kesabaran.

“Dengan penanganan yang tepat diharapkan dapat mengurangi dampak jangka panjang pada bayi prematur,” ujarnya.

Saat ini tingkat kejadian persalinan prematur pada ibu hamil cukup tinggi. Setiap tahun di dunia, sekitar 15 juta bayi terlahir prematur, sedangkan di Indonesia satu dari enam kelahiran bayi mengalami prematur. Bahkan berdasarkan data WHO pada November 2013, di Indonesia dari 100 bayi yang lahir, 15,5 bayi mengalami kelahiran prematur.

Bayi prematur itu sendiri adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau kurang dari 259 hari dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Berdasarkan berat badan, bayi premature bisa diklasifikasikan menjadi 3 yakni, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan berat lahir kurang dari 2500 gram, Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR) dengan berat lahir kurang dari 1500 gram dan Berat Badan Lahir Ekstrim Rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.

Adapun menyebab bayi premature menurut Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr Herman Trisdiantono SpOG yaitu akibat adanya komplikasi persalinan seperti kelainan rahim/leher rahim, infeksi pada ibu, pre-eklamsi, eklamsi, plasenta previa, riwayat persalinan prematur, obesitas, jantung, hipertensi, anemia, asma, dan lainnya.

Penyebab selanjutnya adalah Epidemilogi kehamilan di usia kurang dari 18 tahun dan lebih dari 40 tahun, kehamilan yang tidak diinginkan, malnutrisi pada ibu, merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, dan obat-obatan terlarang serta stres yang berlebihan. Terakhir, tidak diketahui penyebabnya.

“Kelahiran prematur tidak seluruhnya dapat dicegah tetapi dengan parenting consulting, angka kejadian prematuritas dapat ditekan,” pungkas Herman.

(inung/sir)

Teks Gbr- Bayi prematur yang berhasil diselamatkan dan kini tumbuh sehat. (ist)