Thursday, 12 December 2019

Duh Malunya, Bawa WIL Dipergoki Anak Sendiri

Sabtu, 20 September 2014 — 1:18 WIB
Dia-20Sept

JADI penilik atau pengawas SD, tapi malah ngawasi bini orang, itulah kelakuan Mawardi, 50, dari Pandeglang (Banten). Yang paling memalukan, saat keluar hotel sehabis ngencani Ny. Risma, 30, eh kepergok anak sendiri. Makin malu lagi, Pak Penilik itu diomeli anak sendiri di depan orang banyak. Duh, duh……

Jaman Orde Lama, Penilik Sekolah itu disebut siner. Setelah Orde Baru sampai reformasi dewasa ini, Penilik Sekolah lebih lazim dipanggil Pengawas. Tugasnya memang mengawasi atau mengontrol sejumlah sekolah di wilayah yang jadi tanggungjawabnya. Dia sangat ditakuti guru dan Kepala SD. Karena Pak Penilik bisa bikin merah-hijaunya nasib guru dan kepalanya.

Tapi Mawardi yang jadi Pengawas SD di wilayah Kecamatan Mandalawangi – Kabupaten Pandeglang, dari tugas itu malah melenceng jadi “pengawas” bini orang, Ny. Risma, yang dalam keseharian juga menjadi guru SD dan masuk dalam wilayah pengawasannya. Karena sudah melenceng dari tugas sebenarnya, Mawardi – Risma ketemu bukan hanya di SD tempat mengajar, tapi malah di hotel. Akhirnya tahu sendirilah, yang diawasi bukan kinerjanya Risma, tapi goyangannya.

Risma memang termasuk guru yang berwajah lumayan, bodinyapun sangat menjanjikan, putih bersih lagi. Setiap meninjau tempat wanita itu mengajar, perasaan Mawardi selaku Pengawas justru sedut senut nggak keruan. Lebih-lebih setelah tahu bahwa perempuan tersebut sedang ditinggal tugas suaminya di Jawa, dan hanya sebulan sekali baru bisa ketemu. “Ingat Bleh, perempuan model begini enak diselingkuhi dan perlu….!” kata setan mulai mempengaruhi.

Di luar kedinasan, keduanya pun mencoba sering ketemu. Risma yang sering kesepian karena jauh dari suami, lama-lama memberi sinyal dan harapan pada Pak Pengawas. Akhirnya ketika diajak ke hotel pun dia tak menolak. Kelanjutannya bisa ditebaklah. Jika sudah jadi mitra koalisi, tentu dilanjutkan dengan “esekusi”.

Celakanya sejak punya WIL Ny. Risma, Pak Pengawas SD ini jadi kurang tertib anggaran di rumah. Maksudnya, biasanya tiap bulan ada SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran), kini belanja dapur jadi minus karena banyak dikurangi. Bahkan anggaran pendidikan yang biasanya dialokasikan 20 %, kini tidak jelas lagi prosentasenya. Sekedar contoh, bayaran uang kuliah si sulung Wildan, 20, jadi telat.

Inilah yang membuat Wildan curiga. Ke mana saja duit ayahnya mengalir? Jangan-jangan bapaknya punya WIL. Maka diam-diam dia memata-matai gerak gerik ayahnya. Beberapa hari lalu dia benar-benar dia melihat, ayahnya satu mobil dengan perempuan cantik yang sebetulnya juga Ny. Risma tersebut. “Pantesan bapak jadi lupa anak istri, ternyata ini biang keroknya.”

Dengan sepeda motor diikuti terus ke mana laju mobil sang ayah. Ternyata kemudian masuk ke sebuah hotel di dalam kota. Beberapa saat setelah ayah dan gendakannya masuk kamar, Wildan menghubungi bagian resepsionis, minta disebutkan di kamar berapa lelaki pembawa mobil Honda itu. Ternyata petugas hotel tak memberikan. Terpaksa Wildan harus menunggu pasangan itu keluar dari hotel. Sudah kepalang basah, keluar besok pagi pun akan ditunggu!

Ternyata pukul 21.00 pasangam itu keluar hotel dengan mesranya, bergandengan tangan bak Rama dan Sinta. Langsung saja Wildan teriak, memaki-maki perempuan yang dibawa ayahnya. Mawardi berusaha memarahi anaknya demi membela sang WIL. Ternyata malah gantian dia ditelanjangi oleh Wildan dengan kata-kata menyakitkan. Ketimbang terus dipermalukan di depan publik,  Mawardi dan Risma bergegas masuk mobil dan kabur. Kini Wildan melaporkan kelakuan ayahnya ke Dinas Pendidikan setempat.

Gara-gara mengejar nikmat, bisa kena pecat. (Gunarso TS)