Friday, 13 December 2019

Biar Cantik Tapi Goblok, Tetangga pun Disodok

Rabu, 29 Oktober 2014 — 3:34 WIB
Ucha-D-29Okt

NY SAMILAH, 41, memang cantik, tapi goblok! Gara-gara kemiskinan dia mau diajak Pak RT ritual cari kekayaan, dari makam kramat hingga kamar hotel. Di sinilah tololnya Samilah, di hotel itu dia kemudian “disodok” Mang Ipik, 41, tetangga sendiri. Padahal hasilnya, Samilah tak juga kaya kecuali ternoda.

Lagi-lagi terbukti, istri tetangga yang cantik itu memang ibaratnya ikan hias di akuarium. Dia hanya enak untuk dilihat-lihat, sebagai pengganti vitamin di mata. Tapi namanya ikan, bila kepepet bisa digoreng, rasanya pasti enak juga. Gurih, kemripik, empuk seperti bandeng presto. Dan sepanjang sejarah kolom ini, sudah berapa saja istri tetangga yang berhasil “digoreng” di ranjang asmara.

Mang Ipik yang jadi RT di Bandung, rupanya juga doyan ikan hias goreng. Awalnya dia sendiri tak pernah mengira bakal dapat “rejeki” seperti itu. Soalnya ya itu tadi, meski Samilah ini cantik, tapi dia kan istri tetangga sekaligus juga warganya. Apa lagi Mang Ipik pernah bertekad, jadi Pak RT musti pintar bergaul, tapi jangan pula sampai menggauli tetangga.

Tapi yang namanya setan kan selalu mereduksi dan mengeleminasi kebenaran. Gara-gara Pak RT punya prinsip semacam itu, justru setan meningkatkan kadar godaannya. Asal Ny. Samilah yang cantik itu lewat depan rumah untuk belanja ke warung, sengaja setan membuat ukuran celana Pak RT langsung berubah. Tapi masak Pak RT demen sama warga sendiri, lalu nomenklaturnya apa itu? “Ah, ya nggah usah pakai nomenklatur dong. Langsung saja kerja dan kerja…..,” kata setan.

Belum lama ini Samilah minta pengantar perpanjangan KTP ke Pak RT. Dari perbincangan itu Mang Ipik sempat menanyakan, kenapa sekian tahun berumahtangga kok ekonominya susah melulu. Apa pengin kaya? Kalau mau kaya, bisa Pak RT membawanya laku tirakatan di makam kramat. Bila terizinkan, pasti bisa kaya.

Samilah tahu bahwa Mang Ipik selama ini punya sambilan jadi paranormal. Karenanya dia cukup percaya dengan “pencerahan” semacam itu. Maka ketika diajak ritual ke Makam Mbah Dongdo di Subang, atas izin suami dia mau saja. Bahkan saking percayanya akan “solusi” dari Mang Ipik, suami merelakan saja istrinya pergi berdua saja dengan Pak RT.

Begitulah, sekitar jam 09.00 Mang Ipik – Samilah tiba di makam Mbah Dongdo. Samilah lalu menjalankan ritual atas bimbingan Pak RT. Wanita cantik tapi goblok itu lalu diberi bungkusan mori kecil yang katanya berisi jampi-jampi untuk menggapai kaya. Katanya, itu pemberian juru kunci. “Boleh kamu buka setelah 100 hari dari kunjungan ini, pasti jalan menuju kaya segera terbuka.” Kata Pak RT.

Rencananya setelah makan siang, Mang Ipik akan mengajak Salimah menggelar ritual lagi. Sayangnya, pukul 15.00 makam sudah dikunci. Terpaksa Mang Ipik mengajak Samilah menjalankan ritual di hotel saja. Padahal ritual di hotel prosesinya semakin aneh-aneh saja. Sebab bila di makam cukup bakar kemenyan, di sini Samilah dimandikan air kembang segala, dalam kondisi telanjang bulat pula.

Di sinilah Mang Ipik tak bisa lagi mengendalikan gairahnya. Dengan alasan jin pembawa kekayaan itu sudah masuk ke dalam tubuhnya, dia minta dilayani hubungan bak suami istri. Itu bukan permintaan diri pribadi, melainkan sekedar menjadi wahana atau medan jin yang mbaureksa melaksanakan tuntutannya. “Saya hanya pelaksana lho,” kata Mang Ipik, meniru gaya Satpol PP menertibkan PKL.

Walhasil Pak RT berhasil menggauli Samilah dengan sukses. Tapi 100 hari kemudian, saat buntelan mori itu dibuka, ujud di dalamnya hanya kembang yang mengering dan sepotong besi kuningan macam slot engsel pintu. Merasa telah ditipu luar dalam oleh Pak RT, Samilah segera mengadu ke Polres Bandung. “Aset nasionalku habis dijarah si duku cabul ini”, ujar Samilah emosi.

Percuma emsi, wong kata Sutan Batugana, sudah masuk itu barang. (Gunarso TS)