Monday, 16 December 2019

Jangan Niru yang Nggak Bener!

Kamis, 30 Oktober 2014 — 6:21 WIB
Dhika-30Okt

BANG JALIL tak mampu mengendalikan amarahnya. Pagi itu seperti orang kesurupan, dia balikan meja makan sampai barang yang ada di atasnya berantakan dan pecah. Diantaranya piring dan gelas.

Dan tak bisa dibendung pula, sang istri memekik disertai kata-kata tak beraturan. “ Astagfirullah, ya Allah, Ya Tuhan ampun! Setan dari mana yang merasuki hati Bapak!?”

Bang Jalil nggak menjawab. Dia malah bengong melihat akibat tindakannya yang ‘brutal’!

“Marah ya marah Pak, tapi nggak usah pakai banting-banting barang. Inget kita ini beli barang sendiri, dan nggak tunai. Itu barang-barang dibeli dari kredit! Bapak jangan niru-niru politikus yang di Senayan. Mereka sih mau banting gelas, banting meja, itu kan bukan barang dia. Itu milik negara!” jerit sang istri sambil membersihkan pecahan gelas dan piring  yang berserakan di lantai.

Memang kemarahan Bang Jalil bukan tanpa sebab. Banyak banget masalah menyerang  kepalanya. Di kantornya yang baru, dia melihat etos kerja dari kawan-kawannya yang lelet. Tidak disiplin. Padahal sesuai dengan ‘kabinet kerja’ harus kerja dan kerja. Tapi, malah banyak yang bolos. Sebagai orang baru, Bang Jalil jadi kena getahnya, menggantikan  jam kerja kawannya. Padahal, dia sudah dua hari belum pulang. Itulah yang membuat Bang Jalil marah  dan sampai dibawa ke rumah.

Apalagi ketika sang istri menyapa dengan sinis,” Memang udah ada rumah baru, sampai lupa pulang ke rumah yang lama?”

Maka tak ampun lagi, amarah Bang Jalil meledak, dan yang jadi sasaran meja yang nggak  berdosa! Salahnya,bahwa di atas meja makan nggak ada kopi dan nasi uduk  buat sarapan pagi.

Tapi, Bang Jalil kemudian minta maaf pada sang istri.” Mohon maaf, Bapak khilaf.”

“ Boleh maaf, tapi ganti dulu meja, piring dan gelas yang pecah!” ujar sang istri, dengan  wajah  cemberut. – massoes