Friday, 13 December 2019

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya

Jumat, 5 Desember 2014 — 6:20 WIB
Dhika-5Des

KELUARGA yang hidup dalam satu lingkungan sosial, memang harus  mampu menjaga keharmonisan, yang disebut sakinah, mawadah, warohmah. Kalau itu sudah terwujud, maka  orang banyak, paling tidak tetangga terdekat akan menyebut itu ‘keluarga’ yang  patut menjadi panutan.

Membangun keluarga yang dikehendaki seperti itu memang bukan hal yang mudah. Banyak orang melihat satu keluarga terpandang, bapak pejabat, istri sibuk sebagai wanita karier, anak-anak sekolah di luar negeri. Orang lain terkagum-kagum akan keberhasilan keluarga yang sejahtera tersebut.Tapi, semuanya akan berbalik seratus delapan puluh derajat, ketika sang kepala keluarga ternyata koruptor?

Ada juga, di mata tetangga, itu keluarga ‘sejahtera’ banget, setiap minggu gonta-ganti motor dari segala merek. Semua pakai sepeda motor, dari bapak, ibu sampai ke anak-anaknya yang bahkan masih duduk di SD. Tapi ternyata, mereka, sekeluarga adalah maling motor.

Ya, ini memang agak aneh. Biasanya, orang tua yang penjahat sekalipun, tak ingin  anaknya ikutan jadi penjahat. Walau ada pepatah, ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Tapi pepatah ini, seyogyanya, berlaku bagi bebet bobot yang baik. Misalnya kalau dia pejabat anaknya nanti besar, diharapkan sukses jadi orang besar pula.

Tapi, kenapa ada banyak juga orang tua yang mengajari  atau membiarkan anaknya atau saudaranya  ikut terjun dalam kejahatan?  Pernah ada, seorang anak menteri, atau anggota DPR, ikutan korup?  Bapak maling, anak istrinya ikutan jadi maling. Suami  jadi pengedar narkoba, istri juga jualan barang haram tersebut..

Semua orang, keluarga ingin sukses, menjadi kaya. Tapi, bukan dengan cara jahat. Memeras, merampas hak milik orang lain. Apalagi dilakukan secara berkomplot bersama keluarga. Amit-amit, deh!   – massoes