Tuesday, 22 October 2019

Seni Batik Kini Banyak Bermain di Luar Pakem Tradisional

Jumat, 12 Desember 2014 — 11:08 WIB
Foto- Seniman batik Kang Mule menunjukkan batik hasil karyanya. (inung)

Foto- Seniman batik Kang Mule menunjukkan batik hasil karyanya. (inung)

JAKARTA (Pos Kota)- Seni batik kini tidak terpaku pada pakem tradisional seperti pedalaman dan pesisir. Justeru seni batik yang berani mengambil pakem di luar hal-hal yang bersifat tradisional kini banyak dicari orang. Sebut saja batik anti koruptor, batik ketidakadilan, batik permainan gaplek, batik gedung sate, kujang pamor, super hero dan sebagainya.

“Saya lebih suka bermain batik dengan gaya dan desain diluar pakem yang sudah ada. Menuruti imajinasi yang ada di kepala,” kata Mulyawan Kurnia S.ST, seniman batik sekaligus founder CV aa ade di sela Festival Batik Nusantara 2014.

Meski di luar pakem, justeru batik hasil karya Mulyawan, banyak dicari penggemar batik. Ratusan desain batik yang unik kini menjadi buruan para kolektor batik baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Kanada dan Nigeria.

Selain bermain diluar pakem, Mulyawan yang akrab disapa Kang Mule juga memiliki karakter sendiri pada pemilihan warna kain. Ia sangat menghindari warna-warna gelap seperti hitam dan coklat tua karena mencerminkan pembodohan.

“Saya lebih suka warna-warna ceria dan berani, seperti warna pelangi, merah, kuning, biru, hijau dan lainnya karena warna ceria menggambarkan karakter cerdas dan dinamis,” lanjutnya.

Kang Mule sendiri sebelumnya pernah menjadi volunteer di Museum Teksil Jakarta. Pria asal Subang lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung tahun 2004 tersebut kini mencoba memberikan jasa kursus dan fashion batik. Juga menerima pesanan produksi kain batik, baju dan seragam batik baik komunitas maupun perusahaan serta membuka gerai di Blok M Plaza untuk melayani masyarakat.

Ia mengaku awalnya terjun ke industri batik dan mengeluarkan brand rancangannya, setelah mengajar di Sekolah Desain Susan Budiharjo. Sambil mengajar, ia berpikir keras bagaimana suatu saat bisa terjun membuat karya sendiri.

“Saya ingin menjadi something di hidup saya, bukan hanya nothing. Kurang lebih setahun mengajar di sana, saya putuskan mulai membuat karya lewat merek aa ade,” tukasnya.

Harga kain batik rancangannya dibandrol mulai dari Rp150.000 hingga Rp3 jutaan per meter. Namun ada juga kain batik yang dilelang dan dibeli salah satu petinggi partai seharga Rp 30 juta bermotif anti korupsi.

Festival Batik Nusantara menurut Plt Kepala UP Museum Tekstil Jakarta Imron merupakan bentuk apresiasi terhadap batik sebagai karya seni nasional.

“Batik yang sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda kemanusiaan sejak 2 Oktober 2009 patut dijaga kelestariannya,” pungkasnya.

(inung/sir)