Tuesday, 12 November 2019

Kasur Hancur Menjadi Debu, Hati yang Berkeping keping

Sabtu, 13 Desember 2014 — 1:53 WIB
Dia-13Des

KASUR spring bed itu dibeli dengan mencicil, eh dibuat alas suami bermesum ria. Keruan saja Ny. Sumiyati, 32, dari Bojonegoro ini marah dan membakar kasur itu sampai jadi abu. Tapi ternyata suami malah menghajarnya. Sumiyati lapor polisi sambil mengeluh, “Hatiku hancur berkeping-keping Pak!”

Banyak lelaki tak pandai bersyukur di muka bumi. Dia di rumah fungsinya hanya sekedar jadi pemacek (pejantan) doang, sedangkan yang kerja cari nafkah justru istrinya. Namun demikian suami tak bisa berterima kasih pada istri pengampu kebutuhan keluarga. Justru berbuat yang neka-neka, misalnya main perempuan, bahkan dibawa pulang ke rumah pula. Ini suami cap apaaaa?

Kelakuan Surindro, 42, warga jalan Panglima Sudirman Kelurahan Kepatihan Kota Bojonegoro, tak jauh beda. Sejak kena PHK beberapa tahun lalu, praktis dia dapat gelar baru DRS dalam arti: Di Rumah Saja. Sebab mencari kerja ke sana kemari tak ada yang menerima. Untungnya si istri, Sumiati ini perempuan ubed (banyak akal), sehingga dengan jualan di pasar dia bisa memperpanjang umur keluarga.

Pekerjaan Surindro kini di siang hari hanya jadi “ternak teri” alias mengantar anak mengantar istri, sedangkan malam hari tak lebih memuaskan istri di ranjang, manakala dia pas butuh. Selebihnya itu, tak ada. Sebab sejak jadi pengangguran ini, seakan Surindro mandul kreativitas. Kerjanya di rumah makan dan tidur melulu.

Biar jadi “panji klantung” (penganggur), karena tongkorongan Surindro sebetulnya cukup lumayan, di luar banyak pula wanita yang tertarik dan pengin ditangkringi.

Di sinilah Surindro tak bisa menjaga diri. Lupa bahwa yang menghidupi istri di rumah, kelakuan wanita yang “ngajak ora omah” itu dilayani juga. Katanya, di rumah jenuh. “Ketimbang ketemu “menu” sayur asem melulu, sekali-kali ada rendang ya disikatlah,” begitu prinsipnya.

Rendang berminyak bak RM Padang itu milik janda Watini, 35, tetangga desa. Sekarang Surindro punya kesibukan baru. Habis mengantar anak dan istri ke pasar, dia mampir ke rumah si janda, memuaskan dahaga asmara. Bila situasinya memungkinkan, berani pula dia mengajak janda Watini ke rumah sekaligus di eksekusi.
Cuma Surindro ini jadi praktisi selingkuh terlalu ceroboh. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu misalnya, habis kencan tempat tidur tidak dirapikan, masih kelihatan acak-acakan. Tak ayal ketika Sumiati pulang dari pasar, jadi curiga melihat kamarnya acak-acakan bak kapal pecah. “Wong seharian di rumah ngatur kamar saja nggak bisa.” Protes sang istri.

Saat Sumiati hendak merapikan tempat tidur, dia kemudian melihat bercak-bercak mencurigakan di sprei. Tanpa melalui pemeriksaan di laboratorium forensik pun dia jadi tahu bahwa itu hasil praktek Surindro membawa perempuan ke rumah. Maka katanya ketus dan sekaligus memaki-maki. “Ini apa, ini apa? Kamu tadi bawa lonte ke rumah ya? Ngaku saja…..!” tuduh Sumiati ke muka suami.

Nuduh “waton nyata” membuat Surindro kelimpungan, tak sempat menyusun dalih. Tapi yang namanya lelaki mana mau ngalah. Dituding-tuding istri di depan para tetangga, dia jadi malu sekali. Akibatnya, tinjunya pun melayang, pleg, pleg, …..dan Sumiati pun terkapar mencium lantai. Sementara tetangga menolongnya, Surindro malah pergi dengan sepeda motornya.

Tak terima atas kelakuan suami, Sumiati segera membakar kasur springbed itu hingga hancur jadi abu. Padahal cicilannya setiap bulan juga belum selesai. Dia memang lebih baik rugi ketimbang kasur itu “nyolok mata” karena akan selalu ingat hal yang sangat menyakitkan. Habis itu dia segera melaporkan suami ke Polres Bojonegoro. “Aku yang ngasih makan dia, eh malah selingkuh. Hatiku hancur berkeping-keping Pak.” Akunya di depan petugas.

Sabar mbak, mau dicarikan sapu dan pengki dulu. (Gunarso TS)

  • pudjiharto123@yahoo.co.id

    Kalau saya jadi bapaknya Sumiyati maka aku usir itu menantu tidak tahu diri.

    • Ki Joko Bokep

      oh gitu

  • ben syafiq

    Kimpret bener itu bandot ya….
    Pecat saja mbak Sum….
    Jadi bergedel jagung dia.