Thursday, 14 November 2019

Pedagang Pasar Induk Kramatjati Keluhkan Sampah

Minggu, 4 Januari 2015 — 13:41 WIB
Tumpukan sampah setinggi 5 meter yang terlihat di Pasar Induk Kramatjati akibat dua bulan tak pernah diangkut/Ifand

Tumpukan sampah setinggi 5 meter yang terlihat di Pasar Induk Kramatjati akibat dua bulan tak pernah diangkut/Ifand

KRAMATJATI (Pos Kota) – Ratusan pedagang di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, mengeluhkan kinerja pengelola pasar tempat ia berdagang. Pasalnya, hampir dua bulan belakangan ini, sampah menumpuk yang menyebabkan anjloknya omset penjualan mereka yang mencapai 50 persen.

“Manajer pasar jangan mau uangnya saja, kami setiap hari bayar retribusi sampah tapi sampah tidak pernah diangkat. Kalau begini terus, bagaimana dagangan saya mau laku. Sedangkan pembeli enggan datang ke lapak kami karena bau busuk menyengat,” keluh Jaja, 61, salah seorang pedagang, Minggu (4/12).

Menurut Jaja, hampir dua bulan belakangan ini sampah yang ada didekat lapak daun bawang miliknya, tak pernah diangkat. Kalau pun diangkat, hanya satu unit truk dalam setiap harinya yang beroperasi untuk mengakut sampah. Akibatnya tumpukan sampah setinggi 5 meter mulai terlihat. “Coba saja lihat sendiri, masa sampah sama badan truk lebih tinggi sampah. Belum lagi bau busuknya yang mengganggu hidung,” keluhnya kesal.

Dikatakan Jaja, dari menggunungnya sampah yang ada saat ini, menimbulkan bau busuk yang sangat menyengat. Alhasil, karena aroma itulah sebagian pembeli tak pernah mendatangi lapak miliknya. “Kami saja yang jualan dan setiap hari di sini, kadang-kadang nggak kuat akan baunya, gimana pembeli yang sesekali datang,” kata Jaja lagi.

Jaja juga mengaku, karena tumpukan itulah yang membuat dagangannya kurang laku. Dimana sebelum adanya tumpukan sampah tersebut, dalam setiap harinya uang sebesar Rp1 juta ia dapatkan. Namun kini, untuk mendapatkan uang sebesar Rp500 ribu. “Sekarang dagang nggak ada untungnya. Gimana mau untung, yang beli saja nggak ada. Semuanya gara-gara sampah yang tak diangkut-angkut itu,” tegasnya.

Atas kondisi tersebut, ia pun mengharapkan agar kepala pasar segera mengambil tindakan. Karena mereka khawatir bila tumpukan sampah itu terus menggunung, yang ada malah membuatnya gulung tikar. “Kami mohon dengan sangat agar pengelola dengan segera mencari solusi. Jangan sampai kami yang menjadi korban,” tuturnya.

KURANG ARMADA
Dikonfirmasi hal tersebut, manager Pasar Induk Kramatjati, M. Salam mengaku menggunungnya sampah baru terjadi selama dua hari belakangan ini. Hal tersebut akibat kurang armada untuk mengakut sampah-sampah tersebut. “Biasanya satu hari itu 5 truk, cuma sekarang hanya satu truk. Makanya sampahnya menumpuk,” ujarnya enteng.

Salam juga mengaku, pihaknya sudah menyurati Dinas Kebersihan DKI Jakarta untuk dapat membantu mengangkut sampah tersebut. Namun hingga kini, lanjut Salam, hal itu belum juga terealisasi. “Sekarang pedagang jangan cuma menyalahi pengelola saja, kita sudah berbuat maksimal untuk mengatasi masalah tersebut,” tuturnya.

Ketika ditanya solusi untuk mengurangi tumpukan sampah, Salam tak bisa menjawab lebih. Dimana ia mengaku akan terus menyurati Dinas kebersihan DKI agar dengan segera membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. “Sekarang kalau untuk menyewa mobil, anggaran dari mana? Makanya jalan satu-satunya ya tetap menunggu saja,” tegasnya.
(ifand/sir)

  • Sibondut labang

    Banyak Anggota DPR(PEMDA) yg Study Banding ke Luar Negeri, seorangpun tdk ada perhatian terhaadap solusi Sampah ? Padahal kalau di Negara Industri, sambah itu adalah Bahan bakau utk Bio Gas , kemudian sampahnya jadi Bio Pupuk.

  • suwiryo

    sebaiknya pedagang iuran sewa truk, sampahnya diangkut terus dibuang di balai kota dki.