Tuesday, 19 November 2019

Pohon Tumbang Tewaskan Tujuh Orang, Polisi Usut Keuangan Kebun Raya Bogor

Selasa, 20 Januari 2015 — 23:32 WIB
Untuk mengurus pohon di Kebun Raya Bogor butuh biaya Rp 45 miliar setahun

Untuk mengurus pohon di Kebun Raya Bogor butuh biaya Rp 45 miliar setahun

BOGOR (Pos Kota) – Tujuh nyawa melayang dan puluhan lainnya luka berat dan ringan saat terjadi pohon tumbang di Kebon Raya Bogor (KRB) pada Minggu (11/1) sekitar pukul 10.00 pagi lalu, kini memasuki tahap pendalaman bukti.

Bahkan penyelidikan lanjutan hari ini, Polres Bogor Kota mulai memeriksa penggunaan anggaran pemeliharaan pohon. Kasat Reskrim Polres Bogor Kota, AKP Auliya Djabar menuturkan, penyidik sudah meminta daftar penggunaan anggaran (DIPA) yang diterima pengelola KRB.

“Kami periksa penggunaan dana DIPA. Kami juga periksa anggaran dari penerimaan tiket masuk yang mencapai Rp15 miliar/tahunnya. Alokasi anggaran tepat sasaran apa tidak. Kita ingin mengetahui untuk apa anggaran itu, termasuk  pemeliharaan pohon. Kami harap pihak kebun raya kooperatif serahkan alokasi penggunaan anggaran yang kami minta,”kata AKP Auliya  Selasa (20/1).

Didik Widyatmoko, Kepala KRB  datang ke Polres Bogor Kota untuk menjelaskan soal DIPA tersebut, tanpa membawa dokumen yang diminta penyidik. “Kalau tidak kasih, kami yang ke sana untuk ambil,”paparnya.

Auliya menambahkan, hasil penelitian sementara ahli pohon IPB, Lina Karpina Sari, kondisi pohon damar Agathis yang tumbang sudah keropos.

“Menurut ahli IPB ibu Lina Karpina Sari,  secara visual pohon damar yang tumbang memang sudah keropos karena terlihat ada lubang akibat rayap dan ulat. Kalau begitu, berarti pengelola KRB lalai. Padahal mereka bilang ada cek rutin 40 ahli tiap hari atas 40 ribu jenis pohon yang ada di kebon raya,” katanya.

Pihak KRB mengklaim membutuhkan anggaran Rp45 miliar untuk kebutuhan biaya pemeliharaan dan gaji karyawan. Pendapatan dari tiket masuk, dirasa masih kurang.

“Dari tiket masuk tiap tahun, ada pemasukan Rp15 Miliar. Jumlah ini tidak cukup untuk biaya pemeliharaan tanaman yang ada disini,”ujar Didik.

Dia mengakui, kekurangan biaya operasional, perawatan dan gaji kemudian adanya subsidi dari APBN.
“Merawat dan menjaga 40 ribu pohon yang terbagi dalam 219 family, 1.250 genus, dan 5.000 species, membutuhkan biaya besar. Kami lakukan pemeriksaan secara berkala, oleh 45 peneliti dan 213 orang pekerja,'”paparnya.  (yopi)