Wednesday, 16 October 2019

Aktor Liam Nelson DIkecam Penjual Senjata

Kamis, 22 Januari 2015 — 14:49 WIB
Taken_3

HOLLYWOOD – Pernyataan bintang Hollywood, Liam Neeson, tentang kebebasan bersenjata di Amerika Serikat menuai kecaman dari perusahaan senjata api.

Saat diwawancarai harian Gulf News asal Dubai, Uni Emirat Arab, Neeson berkomentar mengenai kebebasan bersenjata di AS.

“Terlalu banyak senjata di luar sana, terutama di Amerika. Saya pikir ada sekitar 320 juta penduduk di sana? Lalu sebanyak 300 juta senjata adalah milik pribadi di Amerika. Setiap minggu kita membaca berita di koran ‘Beberapa anak sekolah tewas terbunuh’. Saya pikir ini adalah hal yang memalukan,” kata Neeson mengomentari insiden penembakan Charlie Hebdo di Paris bulan ini.

Komentar itu langsung ditanggapi perusahaan senjata, PARA USA–pihak yang menyediakan senjata api untuk film laga Taken 3 yang dibintangi Neeson.

Perusahaan tersebut mengatakan “menyesal” telah bekerja sama dengan Neeson. Perusahaan itu juga akan memutuskan hubungan dengan pihak pembuat film Taken 3 dan mendesak sejumlah perusahaan lainnya untuk melakukan hal yang sama.

PARA USA mengatakan komentar Neeson ini mencerminkan sebuah “ketidaktahuan tentang budaya dan fakta untuk mendukung Amandemen Kedua dan kebebasan Amerika”.

Pada laman Facebook mereka, perusahaan itu menambahkan, “Kami tidak akan lagi menyediakan senjata api untuk digunakan dalam film-film yang dibintangi Liam Neeson dan meminta kepada semua teman dan mitra di Hollywood untuk tidak bergabung dengan sejumlah proyeknya.”

FANTASI

Dalam wawancara dengan Gulf News, Neeson mengatakan permasalahan senjata api tidak ada hubungannya dengan film-film laga Hollywood.

“Dari kecil aku menonton film-film koboi, menirukan [bunyi pistol] dengan jari-jari saya, ‘Dor, Dor, kau mati!’ dan aku tidak menjadi pembunuh,” katanya.

“Peran seperti Bryan Mills yang menggunakan senjata untuk balas dendam adalah fantasi.”

Film Taken 3 mengisahkan tokoh bernama Bryan Mills yang merupakan mantan agen CIA yang memburu pembunuh adiknya. – BBC/d