Tuesday, 19 November 2019

Penyidikan Tujuh Orang Tewas

Pemeriksaan Pohon di Kebun Raya Bogor Salahi SOP

Kamis, 29 Januari 2015 — 20:55 WIB
Pohon yang tumbang di Kebun Raya Bogor menewaskan tujuh orang ternyata batangnya keropos

Pohon yang tumbang di Kebun Raya Bogor menewaskan tujuh orang ternyata batangnya keropos

BOGOR (Pos Kota) – Peristiwa tumbangnya pohon Agathis yang menewaskan tujuh orang dan melukai puluhan lainnya di Kebon Raya Bogor (KRB) pada Minggu (11/1) lalu, terus didalami penyelidikannya oleh polisi.

Seiring informasi yang dihimpun, Penyidik Satuan Reskrim Polres Bogor Kota menemukan fakta baru.
Kasat Reskrim AKP Auliya Djabar Kamis (29/1)  menuturkan, keterangan dua pegawai KRB yang bertugas mengawasi pohon, pihaknya memperoleh informasi, bahwa selama ini pemeriksaan pohon dilakukan dari jarak 300 meter.

“Ini resmi keterangan dua saksi pegawai KRB yang diperiksa. Mereka mengaku, pemeriksaan pohon dari jarak jauh, termasuk pohon Agathis yang tumbang itu,”kata AKP Auliya. Tidak hanya jarak jauh, pengamatan kondisi pohon juga  dilakukan secara visual.

Atas keterangan yang bertolak belakang dengan keterangan pimpinan KRB ini, AKP Auliya Djabar menduga, sistem pemeriksaan pohon yang dilakukan pekerja lapangan menyalahi standar operasional (SOP) pemeriksaan pohon.

Keterangan saksi ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyatakan bahwa pemeriksaan visual harus dilakukan dengan melihat dari dekat kondisi pohon tersebut, semakin menguatkan dugaan penyidik atas kesalahan penerapan SOP.

“Saksi ahli IPB sudah menjelaskan, pemeriksaan pohon jika dilakukan secara visual harus dekat dengan pohon. Kenapa?, supaya bisa diketahui kondisi pohon yang sebenarnya,”ungkapnya.

Hingga saat ini, polisi sudah memeriksa lima orang, yaitu dua orang dari pihak korban, seorang saksi ahli dan tiga dari KRB. “Kepala KRB pasti kita panggil untuk dimintai keterangan,”tandas Auliya.

Ahli pohon IPB, Lina Karpina Sari, mengatakan, kondisi pohon damar yang tumbang sudah kropos.
“Kata ahli IPB itu, secara visual pohon damar yang tumbang memang sudah keropos karena terlihat ada lubang akibat rayap dan ulat,” ujar AKP Auliya Djabar.

Kepala KRB Didik Widyatmoko  mengatakan, setiap tahunnya KRB membutuhkan anggaran hingga Rp 45 miliar untuk kebutuhan biaya pemeliharaan dan gaji karyawan.

Saat ini katanya, pemasukan dari penjualan tiket hanya Rp 15 miliar per tahun. “Pemasukan tiap tahun dari retribusi tiket, Rp 15 Miliar. Ini tidak cukup untuk menutupi biaya pemeliharaan tanaman, operasional,”papar Didik.

Didik mengatakan, besarnya biaya perawatan dan pemeliharaan tersebut, karena di KRB terdapat sekitar 40 ribu pohon. Puluhan ribu pohon itu terbagi dalam 219 family, 1.250 genus, dan 5.000 species.
“Pemeriksaan dilakukan secara berkala, oleh 45 peneliti dan 213 orang pekerja,”ungkapnya. (yopi)