Sunday, 15 December 2019

Rasa Aman, Hukum, dan Etika

Sabtu, 31 Januari 2015 — 3:49 WIB

Oleh S Saiful Rahim

SEJENAK Dul Karung berhenti di depan pintu masuk warung kopi Mas Wargo. Mulutnya urung mengucapkan assalamu alaykum. Sebaliknya dia membuka lebar-lebar kupingnya mendengarkan riuh perdebatan di dalam warung tentang hukum dan etika.

“Apa sih yang kalian ributkan? Warung kopi kok ramainya lebih dari pasar burung,” tanya Dul Karung yang akhirnya masuk ke warung setelah memberi salam.

Seperti biasa, sambil melempar pantatnya ke bagian yang kosong dari bangku panjang satu-satunya yang ada di sana, tangannya mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Nah, ini kebetulan Dul Karung datang. Mari kita tanya pendapatnya,” kata salah seorang yang ada di warung.

“Dul, menurutmu mana yang lebih tinggi derajatnya antara hukum dan etika? Sejak tadi para langgananku yang baik ini memperdebatkan hal itu. Meniru orang pandai yang berdebat di tv, mereka juga ramai bicara tentang etika dan hukum. Seperti sepintas telah kau dengar itulah,” kata Mas Wargo mendahului semua orang yang ada di warungnya.

“Ini bukan pendapatku, tapi pendapat temanku yang sarjana filsafat. Kata dia, hukum itu untuk mengatur hewan. Kalau manusia diatur oleh etika. Kalau anjing atau kucing mencuri daging, hukum dia dengan cara memukulnya atau cara lain agar dia jera atau tidak berani mencuri lagi.

Tetapi kalau anakmu yang mencuri, tanamkan etika dalam dirinya bahwa mencuri itu tidak baik. Kira-kira begitu pendapat temanku yang sarjana filsafat itu,” jawab Dul Karung dengan rada sok.

“Wah, ini bukan obrolan kelas warung kopi kakilima. Pusing aku. Lebih baik ngobrol soal Jakarta yang menurut hasil survei Economist Intelligence Unit adalah kota yang paling tidak aman,” potong orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung dengan tiba-tiba.

“Ah belum tentu survei itu benar. Menurut Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya yang namanya aku lupa, tidak benar Jakarta tidak aman. Buktinya banyak sudut jalan di Jakarta pada malam hari tetap ramai,” sanggah orang yang berpenampilan kelimis yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Wah, kalau mengukur aman atau tidaknya suatu tempat dengan cara seperti itu, ya lucu dong,” sambar Dul Karung.

“Berarti tempat atau sudut jalan yang sepi karena tidak ada orangnya, tidak aman? Lha kalau tidak ada orang, yang jadi pengganggu keamanan itu siapa? Dan yang rasa keamanannya terganggu siapa pula?” sambung Dul Karung sambil menyeruput teh manisnya.

“Benar juga apa yang dikatakan Dul Karung itu. Mbok pak polisi kalau mau membantah jangan asal-asalan sajalah. Aku jadi ingat peristiwa tabrakan maut di jalan arteri Pondok Indah pekan lalu. Mulanya katanya si pelaku menggunakan narkoba jenis LSD. Bahkan cara memakainya disebutkan yaitu ditaruh di bawah lidah. Tetapi kemudian dibantah. Kini katanya pelakunya bersih dari narkoba. Apa gak bikin bingung tuh?” sela orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Kalau soal keamanan, aku bukan senang disebut Jakarta paling tidak aman. Walau bukan Betawi asli kayak si Dul, cintaku kepada Jakarta tidak kalah besar. Sebab aku tinggal, hidup, dan beranak pinak, bahkan mati pun kelak mungkin di sini. Tapi bila dua instansi atau lembaga penegak hukum yang kedua-duanya berkedudukan di Jakarta saling tuding dan tangkap, terus terang, sebagai rakyat aku merasa tak nyaman. Ingat, rasa tidak nyaman dalam hidup adalah salah satu bentuk ketidakamanan,” kata orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Ah, semua itu baru sangkaan. Nanti pengadilan dan hukum yang menentukan benar atau tidak sangkaan tersebut,” kata seseorang entah siapa dan yang mana.

“Betul. Tapi tetap berarti ada penegak hukum yang bersalah, kan? Kalau sangkaan itu benar, berarti ada penegak hukum yang bersalah. Kalau sangkaan itu tidak benar, tetap saja ada penegak yang bersalah. Yaitu salah sangka,” balas orang yang duduk di depan Mas Wargo.

“Menurut kau bagaimana, Dul?” tanya orang yang duduk tepat di sebelah Dul Karung.

“Ah, aku gak mau turut campur urusan orang lain,” jawab Dul Karung.

“Kalau urusan utangmu pada Mas Wargo?” kata orang itu lagi..

“Karena aku orang yang beretika, pasti kelak akan kubayar, walaupun secara hukum bisa diperdebatkan karena bukti-bukti tertulis sama sekali Mas Wargo tidak punya. Sebab bon-bon yang ditulis di bukunya tidak pernah aku tanda tangani,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung. ( syahsr@gmail.com )

 

Terbaru

Anggota Komisi I  DPR RI, Sukamta. (rizal)
Minggu, 15/12/2019 — 19:17 WIB
UU Kewarganegaraan Ancam Imigram Muslim
PKS Desak Pemerintah Panggil Kedubes India
CEO Sahara Farah menerima piagam penghargaan dari Muri atas pemecahan rekor Gebyar 10.000 Warung. (ist)
Minggu, 15/12/2019 — 18:55 WIB
Gelar GEBYAR 10.000 WARUNG, SAHARA Ukir Rekor MURI