Wednesday, 20 November 2019

PJT II Jatiluhur Tertibkan Keramba Jaring Apung Ilegal

Kamis, 5 Februari 2015 — 10:00 WIB
Foto-Dirlola PJT II Jatiluhur Harry M Sungguh memberikan keterangan kepada wartawan usai penertiban KJA, Rabu (4/2).

Foto-Dirlola PJT II Jatiluhur Harry M Sungguh memberikan keterangan kepada wartawan usai penertiban KJA, Rabu (4/2).

PURWAKARTA (Pos Kota) – Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur, menggelar penertiban Keramba Jaring Apung (KJA) yang ada di Perairan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.

Dalam penertiban yang melibatkan petugas gabungan dari personil TNI/Polri dan Satpol PP ini, pengelola waduk terbesar di Jawa Barat ini memfokuskan pada KJA ilegal dan yang sudah tak aktif atau tak lagi digunakan oleh pemiliknya.

Direktur Pengelolaan Air (Dirlola) PJT II Jatiluhur, Harry M Sungguh mengatakan, sejak awal tahun pihaknya sudah melakukan dua kali penertiban. Sampai saat ini, sudah ada sekitar 95 petak KJA yang telah diangkat ke darat.

“Penertiban KJA tak berizin ini baru berjalan dua kali. Kami, beserta jajaran muspika Jatiluhur baru menyisir KJA yang berada di zona 1 dan 3. Keramba yang telah ditertibkan ada sekitar 95 petak. Sisa-sisa KJA ini untuk sementara disimpan di sepanjang bibir waduk,” jelas Harry kepada Pos Kota.

Harry mengaku, penertiban ini rencananya akan dilakukan secara bertahap. Pasalnya, KJA yang ada di waduk Jatiluhur jumlahnya mencapai puluhan ribu. Meski demikian, dia menegaskan, kegiatan ini akan terus dilakukan sampai jumlah KJA berada di titik ideal yakni 4.000 petak.

Dia menjelaskan, dari data yang ada, saat ini jumlah KJA tercatat ada sekitar 23.740 petak KJA. Padahal, berdasarkan kajian idealnya petak KJA ini maksimal hanya 4.000 unit saja. Dengan kondisi tersebut, tentu sangat berpengaruh pada kualitas airnya Jatiluhur.

“Kualitas air sudah sangat mengkhawatirkan. Makanya, kami targetkan dalam sepekan bisa menertibkan 50 KJA. Supaya, setiap bulannya bisa mengangkat 200 petak. Sehingga, keberadaan KJA ini bisa segera diminimalisasi,” jelas dia.

Harry pun mengakui, jika selama ini keberadaan KJA menjadi faktor penyebab menurunnya kualitas air. Bahkan, selain berdampak pada pencemaran air, limbah pakan ikan ini pun berpotensi menjadi pemicu korosi pada turbin.

Sebab, air waduk tersebut sudah tercampur dengan berbagai zat yang dihasilkan pakan ikan tersebut. Salah satunya, zat asam sulfat. Zat tersebut, semakin lama akan mempercepat korosi pada dinding dan logam turbin.

“Satu-satunya solusi guna meminimalisasi pencemaran, yakni dengan mengurangi jumlah kolam jaring apung,” tegas dia.

Dengan begitu, sebut dia, banyaknya KJA ini bukan saja dapat merusak ekosistem air danau Jatiluhur, tapi berdampak lebih luas terhadap sektor lain yang berkaitan erat dengan keberadaan danau dan bendungan Jatiluhur.

(dadan/sir)