Friday, 06 December 2019

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi 4 -4,5 Persen

Rabu, 11 Februari 2015 — 23:48 WIB

JAKARTA (Pos kota)- Mantan Menteri Perekonomian  era Gus Dur, Rizal Ramli mengatakan Presiden Jokowi harus berani  melawan mafia impor pangan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi melambat kurang dari 5% tahun 2015. Tetapi jika BI terus ketatkan moneter, maka pertumbuhan ekonomi hanya akan 4-4,5%

“Pak Jokowi masih pidato di mana-mana ekonomi akan tumbuh 7 persen. Tidak tahu siapa penasehat ekonominya. Padahal penjualan retail telah anjlok 20-30 persen,” Rizal Ramli.

Rizal mengatakan, bahwa  Bank Indonesia takut rupiah anjlok diatas Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat. Makanya, lanjut Rizal, BI terus ketatkan moneter. Pengetatan yang ia anggap justru akan semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi 2015.

“Kebijakan moneter super ketat BI tahun  tahun 97-98, atas saran IMF, justru membuat ekonomi RI rontok dari 6 persen menjadi -12,8 persen. Yunani ikut saran ala IMF itu, setelah 3 tahun, Yunani malah semakin rontok,” Rizal Ramli mengingatkan kembali.

Inflasi sudah lebih rendah, imbuhnya lagi, yang sebetulnya BI masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga dan melonggarkan moneter. Kecuali, BI monetarist konservatif.

Dengan pertumbuhan ekonomi 4-4,5 persen, sulit untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja tahun 2015. Sehingga Rizal menyarankan perluanya terobosan-terobosan untuk membalikkan keadaan.

Inflasi di pedesaan, lanjutnya lagi, dua kali inflasi diperkotaan, salah satu penyebab kemiskinan yang tinggi. Perbedaan inflasi tinggi tersebut harus dikurangi agar kemiskinan berkurang.

“Secara prinsip, saya tidak setuju program bagi-bagi uang. Kecuali untuk yang cacat. Lebih baik program kerja yang dibayar, bangun jalan desa, irigasi tertier dll. Inflasi makanan masih tinggi karena nilai rupiah anjlok dan tata niaga masih sistem quota dan kartel. Jokowi mesti berani sikat sistim quota mafia impor pangan,” Rizal Ramli menegaskan. (rizal)