Tuesday, 19 November 2019

Pejabat DKI Pilih Jadi Staf, Karena Batal Gaji Besar

Kamis, 19 Maret 2015 — 6:15 WIB
Ucha 19 Maret

GUBERNUR Ahok menyadari bahwa jadi pejabat DKI dalam masa kepemimpinannya kerjanya capek dan bikin stress. Untuk mengimbangi kinerja mereka,  diberikannya tunjangan dinamis yang menggiurkan, sehingga gaji besar. Tapi rencana itu dipangkas Kemendagri, karena bikin ngiri PNS di provinsi lain. Bersamaan dengan itu Gubernur Ahok bilang, banyak lurah dan camat yang minta turun jadi staf saja, karena capek. Capek beneran apa patah semangat karena batal terima gaji besar?

Di masa pemerintahan Gubernur Ahok, jadi pejabat DKI tak bisa lagi leha-leha dan terima “setoran”. Semua harus kerja keras, demi melayani rakyat dan membangun Jakarta Baru. Yang menjadikan pejabat merasa “kiamat”, kerja capek, stress, tapi kantong kering karena tak ada lagi yang bisa “dimainkan”. Sudah begitu, sebentar-sebentar dikocok ulang, diperlakuan seperti permainan “ular tangga”.

Gubernur Ahok memahami tantangan kerja dan tingkat stress para anak buahnya itu. Makanya dia bermaksud memberikan “tunjangan dinamis” yang menggiurkan, sehingga seorang lurah sebulan bisa terima Rp 33 juta, camat Rp 44 juta dan seterusnya; semakin tinggi aselonnnya semakin besar pula gajinya. Tapi sayang, rencana Ahok itu dipangkas oleh Mendagri Tjahyo Kumolo, karena berpotensi memancing kecemburuan PNS di lain provinsi.

Bila para lurah dan camat banyak yang minta turun jadi staf saja, jangan-jangan faktor utamanya karena “tunjangan dinamis”  yang dibatalkan itu. Tanpa itu lalu apa artinya jadi pejabat DKI? Sudah tak bisa main proyek karena anggaran di e-budgeting, kerja tidak tenang karena jabatan bisa tiba-tiba hilang, mending jadi staf sajalah. Tanggungjawabnya kecil, dan tidak perlu lagi capek blusukan ke sana kemari.

Tentunya tidak semua pejabat DKI bermental demikian. Banyak juga yang bekerja penuh dedikasi, tidak berharap pada komisi. Pada perombakan pejabat DKI bulan April mendatang, akan ketahuan mana mereka yang bekerja penuh dedikasi, dan mana yang bekerja karena berharap dapat komisi. Dan yang motifnya demikian, mendingan jadi staf saja, ketimbang jadi pejabat tapi tak memperoleh apa-apa. Kelihatannya garang, tapi garing. – gunarso ts

  • didi

    dari dahulu Pejabat Eselon yang tidak maksimal sangat susah disingkirkan, baguslah dengan seperti ini terjadi seleksi alam buat yang mau kerja santai tapi gaji gede tersingkirkan sendiri.