Tuesday, 22 October 2019

Jamuan Makan Malam

Jumat, 20 Maret 2015 — 2:32 WIB
DK 20 Maret

BANG JALIL bingung. Benar-benar bingung. Diterima atau nggak ya, undangan makan malam dari  warganya? Masalahnya, ada dua warga yang sedang bertikai di wilayah ke-ertean yang dipimpinnya, mengundang makan malam.

“Jangan lupa Pak Jalil, malam minggu besok datang, ya?” ujar warga yang pertama.

“ Malam Minggu depannya saya minta juga Pak Jalil dan Ibu, kalau perlu sekeluarga makan malam bersama keluarga saya,” ujar warga yang kedua.

“Kami sudah siapkan menu kesukaan Pak Jalil. Ikan gurame bakar, dan gulai kepala ikan kakap!” ujar  warga yang pertama.

“ Pak Jalil pernah makan steak nggak? Itu tuh, makanan dari barat sana. Daging bakar  yang dimakan pakai saus. Pak Jalil jangan lupa belajar pegang pisau sama garpu!”

Bang Jalil bilang ‘ya’ tidak, bilang ‘tidak’ juga nggak.  Ngambang. Otak Bang Jalil masih waras. Sekarang ini jamannya orang saling mengadu domba. Bang Jalil nggak mau kalau jadi ‘domba’.

Memang sepanjang dia jadi ketua RT, ada saja masalah dari warga yang datang. Ribut antar warga satu dengan warga lainnya dan soal tetek bengek yang nggak jelas.Persoalan sepele,dibesar-besarkan. Begitulah yang terjadi sekarang. Nggak mau akur. Mereka saling curiga, saling tuduh. Seperti orang di atas sono?

Nah, oleh sebab itu setelah berfikir panjang,  Bang Jalil langsung saja mengambil sikap ’tidak mau’ atau ‘menolak’,  menghadiri jamuan makan malam dari kedua warganya. ” Saya sedang mengadili kedua warga tersebut. Kalau saya mau makan malam bersama mereka, wah apa kata dunia?” ujar Bang Jalil.

Pasal-pasal korupsi yang ditangani KPK, bahwa ‘sesuatu’ yang diterima oleh seorang pejabat sekecil apapun, termasuk ‘makan malam’ bisa dianggap gratifikasi!

Hemm, tapi ada juga sih, pejabat yang punya rekening gendut hasil hadiah dari para koleganya, bisa lolos dari jerat korupsi. Betulkah?  – massoes

 

Terbaru

Satpol PP Kecamatan Tambora Pacu Patroli Bersepeda
Inbox
	x
Rachmi Siregar
	
Attachments7:39 PM (3 hours ago)
	
	
to harianposkota, me
TAMBORA (Pos Kota) - Jajaran Satpol Pamong Praja (PP) Kecamatan Tambora, Jakarta Barat sejak dua bulan terakhir menggenjot patroli wilayah dengan bersepeda.

"Sesuai instruksi Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Jakarta Barat, kami mentradisikan bike for work (sepeda untuk bekerja)," kata Kasatpol PP Kecamatan Tambora, Ivand Sigiro saat pantauan wilayah bersama tim, Selasa (22/10/2019).

Selain mengoptimalkan monitoring wilayah lanjut Ivand, dengan bersepeda bertujuan memperbaiki kualitas udara di Jakarta. Termasuk mengurangi kemacetan lalu lintas yang sebagian besar disebabkan dari maraknya penggunaan kendaraan pribadi.

Menurut Ivand, patroli bersepeda dilaksanakan rutin setiap hari kecuali Sabtu. Di mulai dari pukul 08.00-11.00 WIB. Sedangkan, patroli sore mulai pukul 14.00-16.00 WIB. Sementara anggota satpol PP yang berpatroli berjumlah 4-6 personil. 

Patroli bersepeda difokuskan pada sterilisasi pedestrian atau trotoar jalan yang dipakai untuk berdagang. "Target kami adalah sterilisasi trotoar dari pedagang kaki lima, parkir liar, dan penempatan barang dagangan pemilik toko dan ruko," terangnya.

Saat tengah patroli bersepeda di ruas Jalan Tubagus Angke dan Jalan Prof. Latumenten, petugas gabungan satpol PP dan Satpel Sudin Perhubungan Kecamatan Tambora menderek satu mobil yang diparkir di bahu jalan. Serta mencabut pentil satu mobil lainnya, menghalau tujuh pedagang kaki-5 dan memberi sosialisasi kepada pedagang agar tidak berjualan di trotoar. (Rachmi)

Teks foto:
Kasatpol PP Kecamatan Tambora, Ivand Sigiro bersama jajaran berpatroli ke wilayah dengan bersepeda. (Rachmi)
Rabu, 23/10/2019 — 2:25 WIB
Satpol PP Tambora Pacu Patroli Bersepeda
Juru bicara KPK, Febri Diansyah.  (julian)
Selasa, 22/10/2019 — 22:31 WIB
KPK akan Hadapi Gugatan Praperadilan Imam Nahrowi
Arminsyah,  Wakil Jaksa Agung yang ditunjuk menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Jaksa Agung.
Selasa, 22/10/2019 — 21:01 WIB
Jokowi Tunjuk Arminsyah Jadi Plt Jaksa Agung