Tuesday, 19 November 2019

Tersangka Human Trafficking Laporkan Korban Sebagai Penipu

Selasa, 31 Maret 2015 — 19:01 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

KELAPA GADING (Pos Kota) – Kasus rumit ditangani Polsek Kelapa Gading dan Polres Bogor. Tiga tersangka yang ditahan Polres Bogor dengan tuduhan melakukan human trafficking atau menjual manusia, berbalik melaporkan korban dengan kasus penipuan ke Polsek Kelapa Gading.

Polres Bogor mengatakan akan tetap memproses kasus perdagangan manusia itu, demikian juga Polsek Kelapa Gading tentu memproses laporan penipuan tersebut.

Tiga tersangka yang ditahan penyidik Reskrim Polres Bogor  adalah WU, bersama saudaranya YA, dan GU, Mereka ditahan atas laporan DS yang mengaku berusia 14 tahun dan dijual untuk bekerja di tempat hiburan malam.

Sementara WU ke Polsek Kelapa Gading melapor telah ditipu DS. Menurut WSU dia DS tinggal di Kawasan Bogor, masih bertetangga. ” Menurut laporan WU, DS meminjam uang Rp 5,5 juta kepadanya dengan alasan untuk biaya persalinan ibunya, bayar kontrakan, dan bayar utang,” kata Kapolsek Kelapa Gading, Kompol Sutriyono, Selasa (31/03).

Dikatakan, karena kasihan WU menyanggupi permintaan DS. Kepada WU, DS juga memohon  dicarikan pekerjaan. “WU kembali menyanggupi keinginan DS. Tepat pada 16 Februari 2015, DS bekerja di tempat WU di sebuah restoran di Apartemen Mediterania Kelapa Gading. Pada hari pertama DS bekerja, WU memberikan uang pinjaman sebesar Rp 5,5 juta untuk DS,” terangnya.

Namun, DS di tempat kerja mengecewakan. Keesokan harinya, 17 Februari 2015, DS tak lagi bekerja dan diam-diam kabur dari restoran itu. “WU berupaya menghubungi bahkan mencari DS di rumahnya di Kawasan Cinangneng, Bogor. Namun, DS tidak ada dirumahnya. WU pun panik lantaran uang yang dipinjamkan tersebut merupakan uang kasbon di kantornya,” katanya.

WU lalu melaporkan DS ke Polsek Kelapa Gading, pada 19 Februari 2015 dengan tuduhan penipuan. “Dia melaporkan hal itu ke kami. Ada buktinya, kwitansi yang bertuliskan nominal uang yang dipinjamkan Rp 5,5 juta tercantum diatas matrai atas nama DS serta sidik jarinya. Kemudian surat pernyataan bekerja ditandatangani DS di atas matrai dibubuhkan sidik jari. Kemudian diketahui Ibunya dengan tanda tangan,” ujarnya.

“Kami sudah lakukan gelar perkara dan juga sudah ke rumah DS di Bogor dan melakukan tanya jawab, tapi tersangka tidak mau di BAP,” sambung Sutriyono.

Dijelaskan, dari KTP DS usianya bukan 14 tahun melainkan 18 tahun. DS sendiri bekerja ditempat tersebut atas permintaannya sendiri dan bukan dipaksa WU.

Kemudian WU menjadi tersangka kasus trafiking Polres Bogor dari laporan DS mengaku dijual ke Om-Om di kawasan Kelapa Gading. Polres Bogor lalu menangkap WU dan saudaranya YA dan GU,

PENGAKUAN STAF ADMIN RESTORAN

Staf administrasi restoran di Kawasan Mediterania, Kelapa Gading, Ning 34 mengakui, sempat menolong WU yang merupakan salah satu dari tiga pelaku human traficking yang ditahan di Mapolres Bogor. WU mengaku kepadanya tidak tahu soal hukum dan menjadi tersangka di kantor polisi.

WU meminta kepada Ning, untuk menggadaikan rumahnya di Kawasan Cinangneng, Bogor, agar dapat keluar dari tahanan. Dikatakan Ning, WU sempat dirayu oleh salah satu Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) yang membantu DS untuk menjebloskan WU.

“WU ini meminta tolong sama saya untuk menggadaikan rumahnya di Bogor Dapatlah Rp 50 juta. Uang itu lalu diberikan kepada LSM, agar WU dapat dikeluarkan dari tahanan bersama kedua saudaranya, GU dan YA,” kata Ning saat ditemui di Kawasan Kelapa Gading.

Dikatakan, rayuan tersebut ternyata hanya bualan. Uang itu pun, kata Ning tak jelas digunakan untuk apa oleh LSM tersebut. “Jadi bukannya membantu, namun mempersulit keadaan WU. Saat itu, WU mengaku sama saya, memang saat di tahanan ia didatangi pihak LSM. Mereka awalnya ingin membantu WU namun harus membayar Rp 50 juta,” terangnya.

Ning sempat bertemu dengan pihak LSM tersebut untuk memberikan uang sogokkan tersebut di Kawasan Bogor. Ia berani membuktikan hal itu lantaran memiliki bukti kuat. “Saya ada struk ATM, rekaman video, dan jepretan foto terkait penyerahan uang itu,” ingatnya. (ilham)