Wednesday, 20 November 2019

Sembako: Naik-naik ke Puncak Gunung!

Jumat, 5 Juni 2015 — 6:32 WIB
DK Juni 5

IBU JALIL menarik napas panjang, lalu melepaskan secara panjang juga; wusss, wusss! Dadanya mulai lega, sedikit.

“Ada apa Bu, kok romannya lesu kayak gitu?” tanya Bang Jalil sambil menyeruput kopi item pahit yang disediakan sang istri.

“ Bapak tuh selalu kura-kura dalam perahu, pura-pura nggak tahu. Apa  Bapak nggak lihat nggak baca berita?” sang istri, sedikit memekik.

“ Ya, udah sabar aja Bu. Mau diapain lagi. Kita nggak usah ikut panik kayak pejabat pemerintah. Sudahlah, sabar aja,” ujar Bang Jalil, tenang.

“ Harga naik tuh harus tambah uang belanja, Pak. Bukan pakai sabarrr!” ujar sang istri, mulai sengit.

Bang Jalil diam, menonton TV.  Berita dari pasar ke pasar di seluruh Indonesia. Sama , semua harga naik. Beras, ayam, daging, cabe, bawang  dan semua bahan pangan, naik-naik, naik!

Bang Jalil masih diam. Dia ingat lagu anak-anak;’Naik- naik ke puncak gunung’. Jelas jika sedang menyanyikan  lagu itu, hatinya senang dan riang,“ naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali, kiri kanan  kulihat saja, banyak pohon cemara..aaaa!”

Tapi warga masyarakat, sekarang ini nggak mampu bernyanyi. Semua naik, sementara, pendapatan nggak naik. Belum lagi ada masyarakat yang pekerjaannya harus terhenti. Lihat tuh, sebagian pemain bola yang klubnya bubaran. Kasihan,ya?

Ya, kalau mau dipaksakan berdendang, silakan saja. Tapi jangan kaget kalau suara mereka fals ;  “ Harga-harga, naik-naik, kiri kanan kulihat saja, sembako naik semua!”  Wusss,wusss,wuuussss!   – massoes