Monday, 14 October 2019

Pameran Gelar Batik Nusantara

Rabu, 24 Juni 2015 — 18:50 WIB
Wapres Jusuf Kalla didampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin dan Menteri Perdagangan Rachmad Gobel meninjau Pameran Gelar Batik Nusantara tahun 2015 di JCC. (ist)

Wapres Jusuf Kalla didampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin dan Menteri Perdagangan Rachmad Gobel meninjau Pameran Gelar Batik Nusantara tahun 2015 di JCC. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Pengrajin batik keluhkan bahan baku penguat warna atau gondorukem. Hal ini dikhawatirkan bisa menghambat pertumbuhan industri batik yang menjadi identitas nasional.
Kurangnya bahan baku gondorukem tersebut, menurut Menteri Perindustrian Saleh Husin akibat getah pohon  pinus ini banyak diekspor  ke luar negeri yang negaranya juga memproduksi batik.

Untuk  mengatasi kelangkaan tersebut, pemerintah   memfasilitasi  mesin  untuk  memanfaatkan  limbah  proses  pengolahan gondorukem.  “Kita  bisa  proses  kembali  menjadi  gondorukem  yang  bisa  digunakan  untuk  keperluan industri  batik,” jelas  Menperin  Saleh Husin  pada sambutannya  di  Gelar  Batik  Nusantara  (GBN),  JCC,Jakarta, Rabu (24/6).

Saat ini, lanjutnya,  produksi gondorukem nasional hanya 80 ribu ton per tahun dan dipasok dari PT. Inhutani I dan III di  Sumatera  dan  Sulawesi.  Sedangkan  kebutuhan  dalam  negeri  70  ribu  ton  per  tahun,  namun  ada kekurangan sekitar 20.000 ton per tahun karena sebagian produksi gondorukem banyak diekspor.

“Hingga kini, tercatat IKM batik sebanyak 39.641 unit usaha  dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 916.783 orang,” papar Saleh Husin dalam pameran yang digelar hingga 28 Juni 2015.
Sementara, nilai produksi batik sebesar 39,4 Juta dolar AS serta total ekspor sebesar 4,1 Juta dolar AS.

Kemenperin, lanjutnya, selain  menyalurkan  bantuan  berupa  bantuan  alat  untuk  menunjang  produksi  batik,  juga memfasilitasi  promosi  dan  pemasaran  dengan  mengikutsertakan  IKM  Batik  pada  pameran  berskala nasional maupun internasional.

Indonesia sendiri telah mendapatkan pengakuan dunia melalui UNESCO-PBB yang mengukuhkan batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity (peninggalan budaya dunia) dari Indonesia pada tanggal 29 September 2009 di Abu Dhabi.

Pengukuhan  ini  membawa  konsekuensi  bahwa  pihak  pemerintah  Indonesia  maupun  organisasi kemasyarakatan terkait harus terus menerus secara nyata melestarikan dan mengembangkan warisan budaya batik.

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang membuka pameran tersebut  menegaskan, batik telah menjadi pemersatu bangsa Indonesia dari Aceh hingga Papua. Wapres mencermati, khalayak telah menjadikan batik sebagai pakaian sehari-hari.

“Batik adalah Indonesia. Ini perkembangan yang menggembirakan. Pemakaian dan produksi batik telahmeluas,” ujarnya.

Menurutnya,  para  pengrajin  dan  desainer  telah  mengembangkan  motif  batik  hingga  beragam.  Dari tradisional, modern, keperluan sehari-hari dan resmi.

“Selain  itu,  ada  pula  kreativitas  dalam produksi  warna,”  terang  Wapres yang juga   terus  mendorong industri batik nasional untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi agar jangan sampai kalah dari negara lain yang juga memproduksi kain motif batik secara massal.(Tri/d)