Thursday, 21 November 2019

Terjangkit HIV/AID, Wanita Ini Pilih Jadi Kurir Narkoba

Selasa, 7 Juli 2015 — 20:11 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Terjangkit HIV/AIDS, wanita ini memilih menjadi kurir narkotika. Ia mendapat imbalan Rp15 juta yang digunakan untuk membeli narkoba yang dianggapnya bisa menjadi obat atas sakitnya.

Hal itu dilakukan Wi, 31, yang diringkus petugas Badan Narkotika Nasional (BNN). Ia ditangkap bersama kedua rekannya Hasan, 31, dan Suwanda, 31, saat akan menyelundupkan 2,2 kg shabu dari Malaysia dengan disimpan di selangkangan.

Kepada petugas Wi mengaku terpaksa melakukan hal tersebut. Pasalnya, sakit HIV yang dideritanya sejak empat tahun lalu telah menggerogoti badan. “Dari pekerjaan menjadi kurir, saya dibayar Rp15 juta. Uang itu digunakan untuk membayar terapis dan membeli narkoba agar saya tak terlalu memikirkan sakit saya,” ujarnya, Selasa (7/7).

Menurutnya, pekerjaan itu diambil setelah berkenalannya dengan Suwanda yang menjanjikan upah besar. Uang banyak itu bisa didapat bila ia mengambil shabu dari Hasan yang berada Malaysia, untuk dibawa masuk ke Indonesia. “Ini sudah yang ketiga kali saya lakukan. Tapi malah sekarang tertangkap,” sesalnya.

Sementara itu, Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Deddy Fauzi Elhakim, mengatakan ditangkapnya penyelundupan shabu itu dari penyelidikan yang dilakukannya selama ini. “Meski hasilnya sedikit, namun pengungkapan ini bisa menyelamatkan generasi muda Indonesia,” tuturnya.

Menurutnya, para pelaku ditangkap di tempat berbeda. Wiwin diamankan di apartemen Kemayoran, saat tengah memindahkan shabu yang diberikan oleh Hasan. “Kalau Suwanda, diamankan di apartemen yang tak jauh dari lokasi penangkapan Wiwin,” ujar Deddy.

Menurut Deddy, masuknya shabu dari Malaysia ke Indonesia, akibat kurangnya pengawasan yang dilakukan pihak bandara. Pasalnya, shabu yang disimpan dibalik selangkangan itu dapat dengan mudah lolos dari pengawasan petugas. “Di bandara, petugas hanya lebih mengawasi barang bawaan penumpang. Harusnya memperbanyak alat pendeteksi tubuh (body detector) untuk mencegah masuknya narkoba ke bandara,” ungkap Deddy.

Selain shabu, kata Deddy, pihaknya juga menemukan uang tunai sebesar Rp98 juta. Uang itu disinyalir akan digunakan pelaku untuk menyogok petugas yang akan meringkusnya. “Dari uang itu pula, yang membuat hukuman penjara untuk ketiganya menjadi semakin berat,” tegasnya.

Atas perbuatannya, ketiga pelaku terancam pasal 114 ayat (2), pasal 113 ayat (2), dan pasal 112 ayat (2) Jo pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati. (ifand)