Wednesday, 20 November 2019

Butuh Rp 60 Juta Untuk Biaya Operasi Anak Nekat Jadi Kurir Narkoba

Rabu, 19 Agustus 2015 — 19:55 WIB
Tersangka IS nekat jadi kurir shabu ditangkap BNN

Tersangka IS nekat jadi kurir shabu ditangkap BNN

JAKARTA (Pos Kota) – Untuk mengobati anaknya yang menderita Hidrocepalus (kepala membesar) seorang ayah nekat menjadi kurir shabu. Harapannya untuk mendapatkan upah sebesar Rp60 juta, yang rencananya untuk biaya operasi, kandas karena bapak satu anak ini ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional.

Tersangka 32, sebelumnya bermimpi anak pertamanya yang berusia 11 bulan bisa sembuh. Pria ini ditangkap di kamar indekos i Gang Fatahilah, Kampung Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur.  Disita shabu seberat 2,1 kilogram.

Sambil sedikit menangis, IS menceritakan permasalahan yang dihadapinya. Ia mengaku terpaksa menempuh jalur singkat itu agar bisa melihat anaknya sembuh dari penyakit yang dideritanya. “Karena saya butuh uang akhirnya saya mau,” katanya saat pres rilis di kantor BNN, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (19/8).

Menurutnya, ia langsung setuju begitu rekannya RJ (masih DPO) menyuruhnya mengirimkan narkotika. Disitu, IS dijanjikan dengan upah Rp60 juta bila bisa mengantarkan barang haram itu ke pemesannya. “Kemarin saya cuma tergiur upah yang dijanjikan saja. Tidak memikirkan resiko yang akan diterima,” tuturnya.

Kala itu, lanjut IS, dirinya hanya diperintah RJ untuk mengambil barang di sebuah rumah kos. Dari situ, instruksi selanjutnya baru akan didapatkan bapak satu anak ini untuk perkembangan selanjutnya. “Namun belum sampai keluar kamar kost, saya sudah ditangkap,” ujarnya.

IS sendiri mengaku, aksi yang dilakukannya itu baru dilakukan pertama kali. Namun, belum sempat menikmati hasilnya, pria asal Jawa Barat ini ditangkap petugas. “Sekarang yang terbayang-bayang muka anak saya terus,” katanya lirih.

Sementara itu, Kabag Humas BNN Kombes Slamet Pribadi mengatakan, saat penggerebekan  IS tidak berada di kamarnya. Petugas  harus memantau hingga delapan jam baru IS kembali dan langsung dibekuk. “IS mengaku disuruh bosnya berinisial RJ yang masih DPO untuk mencari indekos sebagai tempat menyimpan sabu,” katanya.

Menurutnya, shabu yang sudah dikemas dalam 10 paket 100 gram itu, akan dijual dengan sistem ‘tempel’ atau taruh ditempat yang sudah ditentukan. Kemudian narkotika itu ditinggal untuk diambil langsung oleh kurir lainnya. “Dari pemeriksaan awal, shabu tersebut diduga berasal dari Tiongkok lantaran dibungkus dengan kemasan teh hijau khas Tiongkok,” ungkapnya. .

Saat ini, IS sendiri harus mendekam diruang tahanan BNN atas perbuatan yang dilakukannya. IS juga akan dikenakan pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2 Jo pasal 131 ayat 1 dengan ancaman maksimal hukuman mati. (ifand/PNJ-9)