Wednesday, 13 November 2019

Presiden Korsel Tuntut Korut Minta Maaf

Senin, 24 Agustus 2015 — 15:36 WIB
Presiden Korsel Park Geun-hye berkeras tidak akan menghentikan siaran propaganda ke wilayah Korut sampai Korut minta maaf atas insiden ledakan ranjau.  (reuters)

Presiden Korsel Park Geun-hye berkeras tidak akan menghentikan siaran propaganda ke wilayah Korut sampai Korut minta maaf atas insiden ledakan ranjau. (reuters)

SEOUL- Presiden Korea Selatan Park Geun-hye berkeras tidak  menghentikan siaran propaganda ke wilayah Korea Utara sampai pemerintah Korut meminta maaf secara resmi atas insiden ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ), awal Agustus lalu.

“(Korea Utara) harus membuat permintaan maaf dengan jelas dan memastikan tiada lagi aksi provokasi. Posisi kami saat ini adalah membendung provokasi Utara. Namun, jika mereka melancarkan provokasi, respons kami tidak akan menunjukkan belas kasihan dan mereka akan benar-benar menyesal,” kata Park sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Ucapan Park mengemuka saat delegasi Korsel dan Korut tengah berunding di Desa Panmunjom, dekat perbatasan kedua negara, demi meredakan ketegangan.

Perundingan yang berlangsung sejak Sabtu (22/08) sore itu belum berakhir hingga Senin (24/08) pagi waktu setempat.

Pada Sabtu (22/08), Angkatan Darat Korea Utara (KPA) menyatakan pasukan garis depan berada dalam keadaan ‘bersenjata lengkap, siaga perang’ sesuai dengan keinginan Kim Jong-un menjelang tenggat ultimatum.

Bahkan, berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Korsel, militer Korut telah mengerahkan kekuatan artileri dua kali lipat di perbatasan darat dan sekitar 50 kapal selam di perbatasan laut.

Perselisihan kedua negara selama beberapa hari terakhir bermula tatkala Korsel mengarahkan siaran propaganda ke wilayah Korut di perbatasan. Siaran itu berisi buletin berita, perkiraan cuaca, dan musik.

Korut lalu menembakkan artileri di sepanjang perbatasan untuk memprotes siaran propaganda tersebut. Korsel kemudian balas menembakkan artileri ke wilayah Korut dekat perbatasan kedua negara.

Namun, kata Presiden Korsel Park Geun-hye, siaran propaganda hanyalah reaksi dari aksi militer Korut yang menempatkan ranjau darat di zona demiliterisasi (DMZ).

Akibat ledakan tersebut seorang tentara Korea Selatan harus diamputasi kedua kakinya, sementara seorang tentara lain kehilangan satu kaki.

Korut membantah terlibat dalam ledakan ranjau itu. Negara tersebut justru mengeluarkan ultimatum agar Korsel menghentikan perang urat syaraf. (BBC)